Sejarah Percetakan

Mentor di Bayt Al-Quran | + posts

Alumnus Pascatahfidz Bayt Al-Quran angkatan I dan Universitas Al-Azhar, Cairo Mesir.

Ilmu atau pengetahuan itu sesuatu yang maknawi, tidak bisa diketahui melalui panca indera. Maka, sebagaimana umumnya komunikasi terjadi, perlu media yang bersifat inderawi untuk mengetahui dan mengkomunikasikan ilmu. Media untuk mengkomunikasikan ilmu ada dua: lisan (verbal) dan tulisan.

Sebelum sejarah penulisan lahir, orang dulu sepenuhnya mengandalkan kata-kata untuk menyampaikan ilmu atau bertukar pikiran. Kata-kata sebagai media penyampaian ilmu mempunyai kelebihan: jelas, tepat, dan cepat. Namun, metode ini sangat temporer. Karena begitu pembicaraan selesai, ia tidak bisa dilacak keberadaannya.

Metode kedua untuk menyampaikan ilmu atau ide adalah tulisan. Berbeda dengan lisan, tulisan bisa bertahan meski pemiliknya sudah meninggal ribuan tahun. Oleh karena itu, tulisan menjadi media yang sangat penting untuk melestarikan ilmu. Dan karena itu pula, sebagai media yang berbentuk tulisan, kitab (buku) sangat sentral di posisinya sebagai salah satu perangkat belajar. Namun, lahir problem baru dari perpindahan media ini: memahami tulisan tidak semudah memahami bahasa lisan. Oleh karena itu, Imam Al-Syathibi pernah berujar, “Dulu, ilmu tersimpan di dada para ulama, kemudian berpindah ke tumpukan kitab. Kuncinya pun kini berada di genggaman para ulama.”

Metode penulisan, dari dulu hingga sekarang, itu ada dua: penulis menuliskannya sendiri, atau mendiktekannya (imla`) kepada orang lain. Setelah proses penulisan selesai, terjadi serangkaian proses terhadap kitab itu: pertama, penulis mengoreksinya, mengkaji ulang, atau mengajarkannya. Dalam proses ini, penulis belajar lagi dari karyanya sendiri, sedangkan karyanya, mengalami serangkaian perbaikan: perubahan kata atau susunan kalimat yang dianggap lebih tepat, pengurangan kata yang dianggap tidak perlu, penambahan yang dirasa perlu, atau pemberian catatan pinggir.

Konon, Syekh Zakariya Al-Anshari membaca ulang dan mengoreksi karyanya, “Al-Tahrir”, sebanyak delapan puluh kali, sehingga kitab tersebut menjadi karyanya dalam bidang fikih yang paling kredibel. Diceritakan bahwa menjelang wafatnya, Imam Al-Nawawi menyayangkan sekian banyak permasalahan dalam kitabnya “Al-Raudhah” dan berharap jika seandainya kitabnya itu ditarik dari pasaran, namun dijawab para muridnya, “Kitab tersebut sudah tersebar luas.” Bedi’uzzaman Sa’id An-Nursi, sejak penulisan Rasa`il An-Nur rampung, tak henti mempelajarinya hingga ajal menjemput.

Kedua, adalah proses penyalinan. Dulu, satu-satunya media untuk memperbanyak naskah adalah dengan menulisnya ulang. Tidak ada percetakan, apalagi fotocopy. Maka, menyalin pun menjadi profesi. Para penyalin disebut “Al-Nussakh” (bentuk plural dari Nasikh: penyalin) atau “Al-Warraqun”. Menyalin adalah sumber penghasilan mereka. Semakin banyak yang disalin, semakin banyak penghasilan. Setelah menyalin, mereka menjualnya di toko kitab (Suuq al-Warraqin).

Tentu saja, tak semua penyalin itu mengerti isi kitab yang ia salin. Bahkan, mungkin hanya sedikit  dari mereka yang ahli dalam disiplin ilmu yang ia salin. Ketika ia dituntut menulis cepat, peluang terjadinya kesalahan dalam proses penyalinan terbuka. Dan bisa jadi, naskah yang dijadikan acuan adalah hasil salinan, bukan tulisan asli pengarang, yang sangat mungkin mengandung kesalahan yang terjadi ketika ia menyalin, sehingga ini membuka peluang kesalahan di atas kesalahan. Atau, naskah acuannya adalah naskah pengarang yang belum dikoreksi, padahal pengarang sudah sekian kali melakukan revisi.

Di sisi lain, bagi seorang pelajar yang kekurangan secara finansial, dan tak mampu membeli kitab di toko, ia bisa menyalin sendiri kitab yang ia mau – dan tentu memakan waktu. Lalu, hasil salinannya itu ia gunakan sebagai pegangannya belajar sendiri, atau kepada gurunya, yang bisa jadi adalah juga pengarang kitabnya. Dalam proses ini, keterangan atau komentar dari guru, ia abadikan sebagai catatan kaki atau catatan pinggir.

Semua proses itu melahirkan beragam jenis naskah, atau yang biasa disebut manuskrip (Makhtutat). Terutama jika kitab tersebut bernilai tinggi dan dijadikan bahan ajar dari generasi ke generasi, yang berarti mengalami ratusan atau ribuan proses penyalinan. Ada naskah pengarang sebelum atau setelah dikoreksi, naskah para penyalin, naskah murid dengan beberapa catatan pinggir, dan lain-lain. Di zaman modern, beragam naskah itu kemudian disimpan di berbagai perpustakaan manuskrip, seperti di Turki, Baghdad, Mesir, Belanda, Jerman, atau Saudi Arabia, yang di kemudian hari dijadikan sandaran utama dalam mencetak kitab di masa modern.

Ketika mesin percetakan ditemukan, sejarah penyalinan mengalami perubahan besar. Semua menjadi serba lebih mudah. Sekali salin bisa menghasilkan ratusan atau ribuan naskah.  Tapi ini juga membuka peluang terjadinya problem baru, karena satu saja kesalahan terjadi, akan terulang sebanyak dan di setiap naskah. Oleh karenanya, era awal percetakan, prosesnya selalu dilakukan di bawah pengawasan para ulama. Seperti percetakan Mustafa Al-Babi Al-Halabi yang selalu mencantumkan nama tim pengawas percetakan di halaman akhir kitab.

Lalu, sejarah percetakan ini mengalami perkembangan di masa-masa berikutnya. Mencetak saat itu bukan hanya mengetik ulang kitab sedekat mungkin dengan maksud pengarang, tapi berkembang menjadi seni yang menempurnakan langkah para pendahulunya dengan: pertama, menyajikan kitab dengan tampilan baru, dengan menggunakan format paragraf, supaya perpindahan ide mudah diketahui pembaca. Kedua, melengkapinya dengan mencantumkan sumber rujukan penulis. Ketiga, membeberkan perbedaan naskah jika ada, terutama jika salah satu dari naskah tersebut mengalami distorsi. Keempat, memberikan harakat untuk beberapa kata jika diperlukan. Kelima, menjelaskan profil tokoh yang ada di dalam kitab. Keenam, menyertakan indeks. Ketujuh, men-takhrij hadits. Kedelapan, memberikan penjelasan tambahan jika diperlukan. Bahkan, sebagian  muhaqqiq (editor) berani melangkah lebih jauh, dengan membandingkan isi kitab dengan pendapat ulama lain.

Semua proses ini belakangan disebut tahqiq (editing), dan orang yang berprofesi di bidang ini disebut muhaqqiq (editor). Tugas muhaqqiq adalah menyajikan kitab secara valid, dan melengkapinya dengan langkah-langkah di atas, untuk mempermudah interaksi pembaca dengan kitab tersebut. Setidaknya, dua syarat yang harus dimiliki oleh seorang muhaqqiq: kapasitas dan obyektifitas. Syarat pertama harus dimiliki, karena ia akan memasuki medan sulit, yang mengharuskan kemampuan dengan standar tertentu, untuk menutup kemungkinan salah memahami teks dan menuliskannya, sehingga berpotensi menyesatkan pembaca. Sedangkan syarat kedua, berkaitan dengan keberlangsungan proses editing. Jika ia menjumpai pendapat yang berseberangan dengan apa yang diyakininya, hal itu tidak menyeretnya untuk melakukan tindakan tak terpuji, seperti merubah redaksi atau bahkan menyunatnya.

Tradisi ini kemudian melahirkan sederet muhaqqiq dengan kualitas nomor wahid. Sebut saja Ahmad Zaki Basya, Ahmad al-Sayyid Shaqr, Abdul Khaliq ‘Udhaimah, Mahmud Syakir, Abdussalam Harun, Muhammad Ali an-Najjar di bidang bahasa dan sastra Arab, Abdul Fattah Abu Ghuddah, Ahmad Muhammad Syakir, Muhammad Fuad Abdul Baqi di bidang hadits, Syekh Abdul Halim Mahmud di bidang tasawwuf, atau sekian nama yang jasanya melampaui batas satu bidang seperti Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, Muhammad Zahid Al-Kautsari, dan Abul Fadhl Ibrahim, yang hasil tahkikannya mencakup sekian banyak cabang keilmuan. Mereka adalah para muhaqqiq generasi awal, yang kemudian dilanjutkan oleh puluhan atau bahkan mungkin ratusan muhaqqiq baru, seperti Dr. Ali Jumah, Dr. Sya’ban Muhammad Ismail, Muhammad Awwamah, Mustafa Al-Bugha, Dr. Ma’bad Abdul Karim, Dr. Hasan Hitou, Dll.

Dunia percetakan memasuki babak baru dengan ditemukannya komputer, dan perannya yang menggantikan mesin ketik manual. Di satu sisi, ia demikian memudahkan kinerja muhaqqiq, karena bisa meng-copy paste dan mengemas ulang kitab semaunya. Namun, “Betapa sering kemudahan memancing kesulitan,” kata sastrawan Al-Basyir Al-Ibrahimi. Sebagaimana yang menimpa kelompok-kelompok apapun, selalu ada para penyusup. Perlahan namun pasti, bermunculan kemudian para muhaqqiq gadungan. Yaitu, mereka yang tidak memenuhi – salah satu atau sama sekali – syarat sebagai muhaqqiq, namun, entah atas dasar apa, merasa perlu ikut andil dalam proses penerbitan.

Akibat perbuatan mereka, rak pustaka kita tercampur dengan kitab-kitab yang tercetak dengan cacat di sana sini. Memang, hanya Al-Quran yang selalu sempurna tanpa cacat. Kitab lainnya akan selalu punya titik untuk dikritik, termasuk soal keakuratan teks. Namun, jika salah ketik yang terjadi itu sedemikian parahnya, ini akan menyengsarakan pelajar, dan mungkin dalam jangka panjang akan membahayakan nasib ilmu terkait. Maka, harus selektif dalam memilih kitab di zaman ini.

Muhammad Nasrullah

Alumnus Pascatahfidz Bayt Al-Quran angkatan I dan Universitas Al-Azhar, Cairo Mesir.