Hafal al-Qur`an Bagi Penuntut Ilmu

Seorang da’i dan ulama asal Maroko, Dr. Sa’id al-Kamali, pernah ditanya, “Sebaiknya saya menghafal al-Qur`an, atau menuntut ilmu?”

“Saya heran dengan pertanyaan ini,” kata beliau sebelum menjawab, lalu membalik pertanyaan, “Bukannya menuntut ilmu (syari’at) harus diawali dengan menghafal al-Qur`an, ya?”

Di lain kesempatan, beliau menyatakan, “Jika seseorang tidak sanggup menghafal al-Qur`an, patut diketahui, bahwa medan ilmu bukanlah medannya. Dia cukup belajar ilmu-ilmu fardhu ‘ain, yang ia perlukan untuk menjalani kehidupan sehari-hari, seperti ibadah: wudhu, shalat, puasa. Sementara mempelajari nahwu, hadits, ushul fikih, dll., tidak terlalu urgen baginya. Jika ia benar-benar ingin menjadi seorang penuntut ilmu, yang diharapkan kelak menjadi ulama, maka ia harus memulai dengan apa yang ulama terdahulu mulai, yaitu menghafal al-Qur`an.”

Singkatnya, hafal al-Qur`an ibarat tiket belajar ilmu-ilmu syari’at. Jika seorang pelajar berhasil hafal al-Qur`an, memang tidak otomatis dia menjadi ulama, namun tiket untuk melanjutkan jenjang berikutnya telah berada di tangan. Jika gagal, maka itu pertanda, bahwa sebaiknya ia menekuni bidang-bidang yang lain. Peluang sangat cukup tersedia. Karena, “Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya.” (QS. 17: 84). Kebanyakan masalah-masalah yang merepotkan kita hari ini, termasuk perdebatan-perdebatan yang menguras pikiran dan emosi, bersumber dari orang-orang yang belum mendapat tiket itu, tapi berbicara seolah-olah ia sudah rampung belajar semua hal.

Dengan memulai mencari ilmu dengan menghafal al-Qur`an, setidaknya bisa merasakan perjuangan yang ia rasakan ketika menghafal al-Qur`an. Karena perjuangan yang akan ia tempuh, ujian yang akan ia hadapi ketika menuntut ilmu kelak, kurang lebih sama dengan ujian dan perjuangan ketika menghafal al-Qur`an. Sukses atau gagalnya menghafal al-Qur`an, bisa memberi gambaran global tentang ujian dan perjuangannya kelak. Ini yang pertama.

Kedua, seperti jawaban M. Quraish Shihab ketika ditanya oleh salah satu di antara kami suatu ketika, tentang peran hafal al-Qur`an bagi seorang mufassir, “Orang yang paling berhak menafsirkan al-Qur`an, adalah orang yang hafal al-Qur`an. Karena menekuni bidang tafsir, ibarat terjun di sebuah medan, yang memerlukan sebuah peta. Ia harus tahu mana lokasi ayat-ayat hukum. Misalnya, kisah nabi ini dan itu, ayat-ayat dengan tema tertentu, dst..” Begitu kurang lebih.

Ketiga, dalam sebuah acara do’a bersama menjelang ujian, Syekh Yusri Rusydi, seorang ulama al-Azhar, berpesan, “Kalian harus hafal al-Quran dan punya jadwal rutin muraja’ah. Karena kalian kelak akan pulang dan menjadi da’i. Saya tidak bisa membayangkan ada seorang da’i yang tidak hafal Al-Qur`an. Karena petunjuk (hidayah), semuanya ada dalam al-Qur`an. Jika seorang da’i tidak hafal al-Qur`an, petunjuk apa yang akan ia sampaikan?”

Bahkan menantu beliau, Syekh Osama al-Sayyid, dalam sebuah khutbahnya di Masjid Madinah al-Bu’uts (asrama mahasiswa asing), berpesan, “Hafalkanlah al-Qur`an! Jika seandainya kalian pulang tanpa oleh-oleh kecuali hafal al-Qur`an, itu sudah cukup.” Walaupun kemudian, ketika topik pembicaraan disambung usai shalat jum’at, tetap saja beliau menyampaikan pentingnya belajar nahwu, balaghah, hadits, dan ushul fikih.

Seperti pula kata senior saya di sebuah pesantren, hafal al-Qur`an ibarat gantungan, sedangkan ilmu-ilmu lain adalah pakaian. Jika sudah hafal al-Qur`an, maka ilmu-ilmu itu tinggal dikaitkan saja dengan gantungannya. Cukup lama saya berusaha memahami tamsil (perumpamaan) ini, hingga kemudian merasakannya sendiri. Man dzaaqa ‘araf, siapa yang merasakan, dengan sendirinya ia akan mengerti.

Jadi begini, semua bidang keilmuan, mempunyai tema-tema pembahasan. Jika satu persatu tema-tema itu kita carikan sumbernya, maka akan kita dapati sumbernya ada dalam Al-Qur`an. Misalnya, yang saat ini saya tekuni adalah ilmu-ilmu Bahasa Arab (Linguistik). Dalam ilmu Sharf (Morfologi), saya sangat terbantu dari hafalan al-Qur’an saat perlu mengetahui wazan-wazan kata (kalimat), saya tahu bahwa fa-ta-na (asli kata “fitnah”) masuk dalam bab 2 “tsulatsi mujarrad” (fa’ala yaf’ilu), dan bahwa gha-fa-la (asli kata “ghaflah”) masuk dalam bab pertama.

Hafalan al-Qur`an juga bisa membuat saya tetap mengingat sekian banyak kaidah Nahwu (Sintaksis) dan Balaghah (Stilistika). Itu belum termasuk fungsi al-Qur`an yang juga sebagai “kamus”. Karena secara tidak langsung, orang yang menghafal al-Qur`an, otomatis menghafal ribuan kosakata bahasa Arab. Sisa tugasnya, hanyalah mencari artinya.

Dalam ilmu Fikih, lamanya ‘iddah contohnya, detailnya bisa dilihat di sejumlah ayat yang terpencar (QS. 2: 234 & 240, 65: 4), pembagian waris sudah dijelaskan secara detail hanya dalam tiga ayat (QS. 4: 11-12, & 176), tata cara shalat Khauf, dll. Begitu pula yang ada dalam ilmu ushul fikih, akidah, sejarah, bahkan prinsip-prinsip berpolitik, bermasyarakat, ilmu psikologi, biologi, geologi, fisika, dan seabrek disiplin ilmu lainnya juga disebutkan dalam al-Qur`an.

Tinggal pintar-pintar bagaimana cara kita menggali dan meramunya. Ibarat “Matn”, al-Qur`an adalah “matn” yang mencakup semua disiplin ilmu. Seperti kata Imam Al-Haddad, al-Qur`an ibarat laut, sedangkan semua ilmu ibarat sungai-sungai, yang semuanya bersumber dan bermuara ke al-Qur`an.

Dari sini kita memahami perkataan Imam Asy-Syafi’i, sebagaimana dikutip oleh Imam Ibnu Katsir dalam pengantar Tafsirnya, “Semua pendapat para ulama adalah penjelasan dari hadis-hadis Rasulullah Saw. Dan semua hadis Rasulullah Saw. adalah penjelasan dari al-Qur`an.”

Namun, memahami al-Qur`an bukan hal yang mudah. Bermodal terjemahan saja sangat tidak cukup. Apalagi kemudian dengan modal terjemahan mau mendirikan Negara. Terlalu buru-buru. Untuk memahami al-Qur`an, diperlukan penguasaan seperangkat ilmu. Imam al-Suyuti menyebutkan ada 15 disiplin ilmu untuk uji kelayakan bagi seseorang yang hendak menafsirkan al-Qur`an. Ayat-ayat yang kita baca, tak akan kita ketahui isinya secara tepat, jika kita tak menguasai seperangkat ilmu itu. Mungkin hanya pemahaman dasar dan dangkal saja yang didapat. Selain dangkal juga parsial. Karena ada hubungan saling menyempurnakan antar ayat-ayat al-Qur`an.

Ibaratnya, jika dikatakan bahwa Nahwu, Sharf, Balaghah, dan Mantik (logika) adalah alat untuk menguasai disiplin ilmu lainnya, maka semua disiplin ilmu adalah alat untuk mendalami al-Qur`an. Boleh dikata, al-Qur`an adalah kitab yang pertama kali dihafal, namun yang terakhir kali dikaji. Wallah a’lam. (Ed/Muntaha)

Mentor di Bayt Al-Quran | + posts

Alumnus Pascatahfidz Bayt Al-Quran angkatan I dan Universitas Al-Azhar, Cairo Mesir.

Muhammad Nasrullah

Alumnus Pascatahfidz Bayt Al-Quran angkatan I dan Universitas Al-Azhar, Cairo Mesir.