Ilmu Tajwid: Catatan Kaki untuk Guru Ngaji

Dr. Sa’ad Abdul Hamid dalam bukunya berjudul Taisiirul al-Rahmaan fii Tajwiid al-Qur’an menjelaskan bahwa Ilmu Tajwid adalah ilmu yang dengannya dapat diketahui cara mengucapkan huruf-huruf al-Qur’an beserta hak-hak huruf yang asli maupun hak-hak yang baru. Hak-hak asli sebuah huruf adalah sifat-sifat yang melekat secara mandiri seperti sifat jahr, istifal, syiddah dan sejenisnya. Adapun hak yang baru adalah sifat yang muncul karena sebuah huruf bersinggungan dengan huruf yang lain, seperti ghunnah, ikhfa’ dan idgham.

Menurut Ibnu Jazari, mempelajari ilmu tajwid hukumnya fardu kifayah, adapun mengamalkan tajwid hukumnya fardu ‘ain, beliau berkata:

‌من ‌لم ‌يُجَوِّدِ القُرْآنَ آثِمُ

“Barang siapa tidak bertajwid (memperbagus) al-Qur’an, maka dia berdosa”

Mayoritas pesantren maupun lembaga pendidikan Islam lainnya di Indonesia mengajarkan ilmu ini kepada santrinya. Beberapa kitab dasar yang sering dijadikan referensi adalah Hidayatus Sibyan, Hidayatul Mustafid, Matan Tuhfatul Athfal dan Mandzumah al-Muqoddimah atau Matan Jazariyah. Beberapa pesantren enggan menggunakan buku-buku tajwid berbahasa Indonesia dengan berbagai alasan. Padahal, kitab-kitab yang dijadikan referensi diatas sangatlah ringkas dan santri membutuhkan penjelasan lebih detail daripada sekedar penjelasan dari bait-bait nadzam tersebut. Oleh karena itu, guru sebaiknya menguasai kitab-kitab tajwid yang lebih lengkap, minimal syarah dari matan Tuhfathul Athfal dan Taqribun Nasyr untuk matan Jazariyah.

Salah satu faktor yang sering terlupakan oleh guru ngaji dalam pendidikan tajwid adalah bahwa keberadaan ilmu ini bertujuan supaya santri atau siswa mampu mengenal huruf-huruf al-Qur’an dengan baik dan benar, secara teori dan praktik. Dengan alasan inilah Imam Ibn Jazari mendahulukan pembahasan makhraj dan sifat huruf dalam muqaddimah-nya. Mayoritas guru ngaji tidak lagi mengaitkan pembahasan makhraj dan sifat dalam bab-bab selain bab makhraj dan sifat.

Dalam kitab Hidayatul Mustafid misalnya, pembahasan makhraj dan sifat justru diletakkan pada bagian tengah kitab. Sehingga tujuan utama keberadaan ilmu tajwid mudah terabaikan. Mengenalkan makhraj dan sifat sebenarnya selalu diterapkan pertama kali oleh guru ngaji dalam tataran praktis. Namun, dalam pengajaran teori sering kali terbalik seperti dalam kasus kitab Hidayatul Mustafid diatas.

Sebagai guru dalam bidang baca al-Qur’an, setelah menguasai makhraj dan sifatul huruf, sudah sepantasnya jika menguasai hubungan antar huruf-huruf al-Qur’an (‘alaqah al-huruf). Sebab didalamnya mengenalkan huruf-huruf mutamatsilain, mutajanisain, mutaqarribain dan mutaba’idain. Dari empat hubungan huruf-huruf tersebut, muncullah hukum-hukum tajwid seperti hukum nun sukun, mim sukun, idgham, ghunnah dan lain-lain beserta alasannya.

Permasalahan lain yang penulis amati adalah adanya inkonsistensi dalam mengenalkan bab mad dan qashr. Banyak sekali guru ngaji yang sembrono dalam memberikan pemahaman teoritis dalam bab ini. Sudah penulis singgung sebelumnya bahwa dalam kitab-kitab klasik dasar, penjelasan tentang bab mad sangatlah ringkas. Bahkan dalam buku-buku ajar di sekolah seringkali lebih ringkas dari kitab-kitab tersebut. Terutama dalam membagi antara mad ashli dan mad far’i. Banyak kasus siswa atau santri yang memahami bahwa mad ashli dan mad thabi’i adalah sama. Padahal, pengarang kitab sudah menjelaskan perbedaan definisi dari mad ashli dan mad far’i.

Catatan terakhir dari penulis untuk para guru ngaji tajwid adalah seputar pembahasan al-maqthu’ dan al-maushul yang sering dianggap remeh karena tidak ada perbedaan yang signifikan dalam pelafalannya. Padahal, keberadaan bab ini sebenarnya menyampaikan pesan akan pentingnya penjagaan tulisan atau rasm al-Qur’an. Empat imam madzhab fiqh sepakat akan haramnya menyalahi tulisan rasm utsmani jika menulis al-Qur’an, meskipun rasm tersebut dinilai salah secara kaidah penulisan umum. Konsistensi dalam menulis al-Qur’an harus ditanamkan sejak dini dengan pesan bahwa tulisan al-Qur’an tidak boleh berubah. Sebab, tulisan yang berbeda bisa jadi merubah cara membaca. Apabila bacaannya berubah maka redaksi al-Qur’an berubah. Apabila hal tersebut terjadi, maka nasib al-Qur’an tidak ada bedanya dengan kitab-kitab samawi yang lain.

Semoga tulisan ini bisa memotivasi para guru yang belum konsisten dan runtut dalam memaparkan teori tajwid. Masih banyak detail catatan yang belum penulis sertakan. Semoga, para guru ngaji di Indonesia semakin professional dalam penguasaan teoritis ilmu tajwid.

Khoirul Muhtadin
Pengajar di SMA Takhassus Al-Qur'an Wonosobo

Alumnus Pascathfidz Bayt Al-Quran angkatan ke-IX periode Februari sampai Juli pada tahun 2014. Sebelumnya belajar di PPTQ Al-Asy'ariyyah Wonosobo.

Khoirul Muhtadin

Alumnus Pascathfidz Bayt Al-Quran angkatan ke-IX periode Februari sampai Juli pada tahun 2014. Sebelumnya belajar di PPTQ Al-Asy'ariyyah Wonosobo.