Memasuki Tahun Baru dengan Optimistis

Manusia pertama, moyang kita Adam a.s., pernah melakukan kesalahan. Beliau dan istrinya melanggar larangan mendekati suatu pohon di dalam surga. Kisah ini dapat kita baca di dalam surah Al-Baqarah (2): 35, Al-A’raf (7): 19. Karena kesalahannya itu, Adam dan Hawa lalu diberi sanksi oleh Allah keluar dari surga turun ke bumi. Tetapi, ceritanya tidak berhenti sampai di situ. Meskipun bersalah dan berdosa, Adam a.s. dipilih oleh Allah menjadi nabi. Adam dijadikan orang saleh. Adam dijadikan sebagai orang baik dengan diberi maaf oleh Allah atas kesalahannya dan diberi petunjuk. Itu semua terjadi karena Nabi Adam mengakui kesalahannya dan kemudian segera bertobat:

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرَحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الخَاسِرِينَ

Nabi Adam dan Siti Hawa berdoa, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami. Jika Engkau tidak mengampuni dosa kami dan tidak merahmati kami, tentu kami termasuk orang-orang yang rugi.”

Ini menegaskan bahwa kesalahan dan dosa manusia itu sebenarnya sangatlah kecil jika dibandingkan dengan luasnya rahmat Allah dan besarnya ampunan Allah. Nabi Adam menyadari telah melakukan pelanggaran (ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا), kami telah menzalimi diri kami, tetapi pada saat yang sama juga memohon ampunan dan rahmat Allah yang amat besar itu.

Memang, rahmat dan kasih sayang Allah itu mendahului marah-Nya. Allah lebih mengedepankan kasih sayang-Nya daripada marah-Nya. Rasulullah saw. bersabda, “Ketika Allah menciptakan makhluk, Dia menulis di atas arasy-Nya, ‘Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului marah-Ku.’” (HR Bukhari dan Muslim). Artinya, rahmat Allah diberikan kepada kita tanpa harus ada sebab terlebih dahulu, tanpa harus kita minta dahulu, tanpa harus kitanya berbuat baik dahulu. Contoh sederhananya begini. Ketika kita masih bayi yang baru lahir, belum bisa apa-apa, belum ngaji, belum salat, belum sedekah, belum berbuat baik, kita sudah diberi makan melalui air susu ibu. Kita sudah diberi oksigen untuk bernapas tanpa kita minta, kita sudah diberi sambutan hangat dari lingkungan keluarga kita yang bergembira dengan kelahiran kita. Apa itu bukan kasih sayang Allah?

Berbeda dengan murka-Nya yang baru akan kita rasakan jika kita berbuat maksiat dan berdosa. Itu pun tidak terjadi secara kontan. Kita diberi kesempatan dulu untuk bertobat. Sepanjang hidup kita. Kemarahan Allah itu pun bisa berubah. Allah bisa saja tidak jadi marah kalau kita meminta maaf dan memohon ampun kepada-Nya. Allah bisa saja tidak jadi marah kepada kita jika kita tidak pelit dengan harta yang kita miliki dengan cara bersedekah, karena sedekah antara lain berfungsi memadamkan api amarah Tuhan. Rasulullah saw. bersabda:

إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ

Sesungguhnya sedekah dapat memadamkan marahnya Tuhan (HR Muslim).

Ini merupakan pelajaran penting tentang optimisme, yaitu pandangan bahwa Allah sudah lebih dahulu sayang kepada kita sebelum kita bisa beribadah kepada-Nya; bahwa rahmat Allah yang diberikan kepada kita itu bukan sebagai balasan atas kebaikan kita, tapi lebih merupakan bentuk karunia dan anugerah-Nya.

ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Itu adalah karunia Allah yang dianugerahkan kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah memiliki karunia yang besar. (QS Al-Jumu’ah [62]: 4).

Karena itu, terlalu larut memandang dosa kita sampai lupa bahwa rahmat dan ampunan Allah begitu luas, itu sikap yang keliru. Terlalu melihat kekurangan diri kita sampai lupa bahwa diri kita juga punya kelebihan, punya potensi kebaikan dan kekuatan, itu pandangan yang keliru. Terlalu memandang besar masalah kecil yang kita hadapi sampai lupa bahwa Allah menyediakan banyak jalan untuk menyelesaikannya, itu juga pandangan yang keliru yang harus kita buang jauh-jauh. Terlalu dalam memikirkan kegagalan kita sampai lupa bahwa kita juga bisa sukses, itu pandangan yang keliru.

Itulah sebabnya mengapa lafal atau redaksi istigfar (astaghfirullaha al-‘azhim) yang diajarkan kepada kita, itu tidak menyebut besarnya dosa kita, tetapi menyebut mahaagungnya Allah. Lafal istigfar itu mengandung arti ‘aku memohon ampunan Allah Yang Mahaagung’. Bahkan, jika hati tergerak untuk beristigfar, itu Allah yang menggerakkannya karena Dia ingin mengampuni kita. Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. berkata,

إِذَا أَلْهَمَكَ اللهُ بِالاِسْتِغْفارِ، فَاعْلَمْ أنَّهُ يَرِيدُ أنْ يَغْفِرَ لَكَ

Kalau hatimu tergerak untuk beristigfar, sadarilah bahwa itu artinya Allah benar-benar ingin mengampuni kamu.

Dahulu umat Islam pernah mengalami kekalahan pada perang Uhud. Semua orang merasa sedih, berduka, dan merasa lemah seolah tak berdaya menghadapi musuh. Bahkan ada yang berpikir heran bagaimana mungkin umat Nabi Muhammad, sang kekasih Allah, kok bisa kalah dalam peperangan membela agama? Tetapi Allah swt. mengingatkan umat Islam dengan firman-Nya:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Janganlah kamu (merasa) lemah, wahai umat Islam, wahai sahabat-sahabat Nabi, gara-gara kekalahan yang kamu alami pada perang Uhud yang mengakibatkan korban luka-luka dan korban jiwa, dan jangan (pula) kamu bersedih hati sehingga kamu kehilangan semangat untuk bangkit kembali. Padahal kamulah sebenarnya yang menang, kamulah yang unggul di mata Allah, kamulah yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang mukmin. (QS Ali Imran [3]: 139).

Walhasil, kekalahan yang secara fisik-militer dialami oleh umat Islam pada perang Uhud itu justru dipandang oleh Allah sebagai sebuah kemenangan, asalkan umat Islam tidak kehilangan keimanannya, tidak kehilangan keyakinannya, tidak kehilangan optimismenya. Itu artinya, jika kita menghadapi masa depan kita, menghadapi tahun baru ini, dengan sikap pesimis, kita sebenarnya sudah kalah sebelum perang. Kita sudah gagal sebelum bertanding.

Karena itu, jika pada tahun 2021 ini sebagian kita memasuki usia pensiun yang berarti kehilangan sebagian besar pendapatan rutinnya, kita masih tetap harus optimis dan bersyukur, karena itu berarti kita punya waktu lebih banyak untuk beribadah, untuk mendekatkan diri kepada Allah, untuk sering-sering tahajud, sering-sering puasa sunah, karena sudah tidak lagi dikejar oleh tugas dan pekerjaan kita.

Jika pada tahun 2020 lalu kita telah mengeluarkan banyak biaya untuk berobat karena penyakit yang kita alami, misalnya, kita masih tetap harus bersyukur dan memandang tahun ini dengan optimisme baru karena pada akhirnya penyakit kita membaik. Bahkan, seandainya tahun 2021 ini kita ditakdirkan meninggal dunia sekalipun, itu masih harus kita pandang dengan optimis bahwa kematian itu adalah akhir dari perbuatan buruk kita. Sebab, boleh jadi kalau umur kita dipanjangkan kita malah semakin mendambah dosa saja. Ini sesuai dengan doa yang diajarkan oleh Nabi saw.:

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي، وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي،
وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ

Ya Allah, perbaikilah agamaku yang merupakan pelindung segala urusanku, perbaikilah duniaku yang merupakan tempat hidupku, perbaikilah akhiratku yang merupakan tempat kembaliku. Jadikanlah hidup sebagai peluang untuk menambah kebaikanku, dan jadikanlah mati sebagai berhenti dari berbuat buruk.

Sebagai umat yang besar, dalam tahun 2020 kemarin kita mengalami banyak sekali masalah. Kita mengalami polarisasi yang cukup tajam sebagai ekses dari pilgub DKI dan pilpres 2019. Saling menyalahkan tidak dapat dielakkan. Sebagian orang malah menuduh saudaranya sebagai munafik. Di sisi lain, tidak sedikit orang yang kurang ilmu dan kurang bijak bermunculan di media sosial mengobral ujaran kebencian, menimbulkan kegaduhan, bahkan terkadang mengeluarkan ancaman terhadap keamanan bersama. Dan itu semua dilakukan dengan mengatasnamakan agama. Di sisi lain lagi, sebagian umat Islam mempraktikkan toleransi beragama secara kebablasan, entah mereka sadari atau tidak.

Sebagian besar umat kita masih belum cerdas menyikapi perbedaan, apalagi menyangkut perbedaan sikap politik. Selain itu, wabah virus corona belum juga berakhir, bahkan belakangan muncul varian baru yang tidak kalah ganasnya, sampai-sampai pemerintah mengeluarkan kebijakan tidak membuka pintu bagi kedatangan warga asing ke Indonesia untuk sementara waktu.

Tetapi, kita tidak perlu kecil hati secara berlebihan. Agama Islam sudah ditinggal wafat oleh nabinya, sudah ditinggal mati oleh para sahabat dan tokoh-tokoh generasi terbaiknya sejak 1.400 tahun lebih, toh sampai hari ini jumlah orang yang secara sadar sujud menyembah Allah di muka bumi ini tidak berkurang, bahkan cenderung bertambah. Di Perancis, jumlah pemeluk Islam mengalami kenaikan dua kali lipat dalam 30 tahun terakhir. Pada hari Jumat, masjid-masjid kita selalu penuh oleh jamaah, bahkan banyak yang harus salat di luar masjid karena kapasitas masjid tidak lagi dapat menampung jumlah jamaah yang banyak. Suatu pemandangan yang hampir tidak kita temukan di rumah-rumah ibadah umat lain. Selama tahun 2020 lalu, banyak pesantren yang ditinggal mati kiainya, ditinggal wafat figur pendirinya, tetapi proses pendidikannya tetap berjalan.

Betul bahwa sering terjadi ketegangan di internal umat Islam Indonesia, tetapi hal itu masih lebih baik jika dibandingkan dengan konflik bersenjata dan perang saudara yang terjadi di Irak, Suriah, dan Yaman. Betul bahwa masih banyak umat Islam yang hidup miskin, tetapi kesadaran berwakaf umat Islam juga mengalami peningkatan. Sebuah lembaga zakat, infak, dan wakaf mencatat bahwa perolehan dana wakaf tahun 2018 mencapai Rp 300 miliar mengalami peningkatan menjadi Rp500 miliar pada 2019.

Itu artinya, betapa pun besar dan kompleksnya permasalahan yang kita hadapi, nikmat dan karunia yang Allah berikan kepada kita yang patut kita syukuri, jauh lebih besar dan lebih banyak daripada permasalahan kita. Karena itu, supaya kita tidak dirundung kesedihan berlarut-larut, agar kita tidak minder, supaya kita tetap percaya diri memasuki tahun baru dengan lebih baik, kita patut mengamalkan perintah Allah untuk selalu mengingat-ingat nikmat-Nya.

فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (الأعراف: 69).

Maka ingat-ingatlah nimat Allah supaya kamu bahagia, supaya kamu beruntung (QS Al-A’raf [7]: 69).

Terakhir, perlu kiranya kita sadari pula bahwa optimis itu tidak berarti bahwa kita tidak akan pernah mengalami sakit pada tahun 2021 ini. Optimis tidak berarti bahwa kita pasti tidak akan mengalami lagi bencana alam pada tahun 2021 ini. Optimis tidak berarti bahwa semua orang miskin kita akan menjadi kaya pada tahun 2021 ini.

Optimis lebih mengandung arti bahwa kita tetap mampu memandang sisi baik di balik setiap keburukan yang kita alami. Optimis artinya kita tetap bisa menerima kondisi buruk yang telah terjadi pada diri kita, umat kita, dan bangsa kita, karena itu merupakan ketetapan Allah. Nabi Muhammad saw. dan para sahabat dahulu juga bersikap optimis, tapi tetap saja mengalami kekalahan pada perang Uhud.

Itulah sebabnya, terhadap hal-hal yang sudah terjadi kita hanya bisa menerimanya dengan lapang dada. Ini sesuai dengan doa yang diajarkan oleh Nabi saw.:

اللّهُمَّ إِنِّي أسْألُكَ الرِّضَاءَ بَعْدَ القَضَاءِ.

Ya Allah, aku memohon keridaan terhadap ketetapan dan takdir-Mu. Sedangkan terhadap hal-hal yang belum terjadi, kita bisa berencana, bisa mengantisipasi, bahkan harus mengupayakan yang terbaik sesuai kapasitas dan kemampuan kita.

+ posts