Nalar Al-Quran tentang Perbedaan

Bersyukur kita kepada Allah dengan ucapan Alhamdu lillahirabbil alamain. Sembari kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dan kita berharap agar kita mati dalam kedaan istikamah sebagai seorang muslim dalam upaya melaksanakan firman Allah :

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Bersalawat kita kepada Rasulullah Saw denga mengucapkan Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala ali syayidina Muhammad. Ketahuilah bahwa salah satu amal yang dianjurkan kepada kita ummat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah memperbanyak shalawat kepada beliau di hari Jumat ini, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَأَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَىَّ

“Sesungguhnya di antara hari yang paling utama adalah hari Jumat, karena itu perbanyaklah membaca shalawat untukku. Sesungguhnya shalawat kalian ditampakkan kepadaku.” (HR. Abu Dawud).

Oleh karena itu, khotib mengajak diri khotib pribadi dan jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT dan juga tidak menyepikan diri dari memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhamammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di hari yang utama ini.

Dalam mengawali khutbah yang berjudul Nalar Al-Qur’an tentang Perbedaan, ada baiknya kita simak terlebih dahulu apa kata Kamus Besar Bahasa Indonesia tentang perbedaan. Kata “ perbedaan” adalah kata jadian dari kata beda. KBBI menjelaskan bahwa kata beda berarti sesuatu yang menjadikan berlainan (tidak sama) antara benda yang satu dengan benda yang lain, atau ketidak samaan. Dari makna ini muncul pengertian tentang kemajemukan, berlain-lainan, berbagai ragam, bermacam-macam, pluralitas, dan segala makna yang mengandung ketidak-samaan dan ketidak-seragaman.

Dari pemahaman ini kita dapat menegaskan bahwa perbedaan pada hakekatnya adalah keniscayaan yang ada pada alam semesta. Ia adalah kenyataan yang kita temukan dalam ciptaan Allah dan kita saksikan, bahkan kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari. Bukan saja benda-benda materil yang berbeda-beda, bahkan kehidupan sosial kitapun berbagai ragam bentuknya.

Manusia hidup di tengah komunitas dunia yang beragam. Semuanya serba berbeda, semuanya serba bermacam-macam. Beda suku dan bangsanya, beda agama dan kepercayaannya, beda bahasa dan warna kukitnya, beda adat istiadatnya, dan beda rasam budayanya. Keniscayaan inilah yang ditegaskan oleh firman Allah dalam surah Al-Hujurat ayat 13 :

ياَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَا كُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَ أُنْثَى وَ جَعَلْنَاكُمْ شُعُوْبا وَقَبَا ءِىلَ لِتَعَا رَفُوْا. إِنَّ  أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَا كُمْ إِنَّ اللهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

‘’Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan dan telah kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya terjadi saling kenal mengenal di antara kalian. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui juga Maha mengenal’’

Ayat ini memberi pencerahan kepada kita tentang nalar Al-Qur’an berkaitan dengan perbedaan, keragaman dan pluralitas. Jelas dikatakan bahwa manusia diciptakan dalam jenis kelamin yang berbeda, yakni laki-laki dan perempuan, tidak pula diciptakan dalam keadaan kelaki-lakian (mutarajjilah) dan keperempuan-perempuanan (muta-annisah). Oleh sebab itu jangan ada upaya untuk memperserupa-serupakan laki-laki dan perempuan. Apalagi melakukan gerakan pernikahan sejenis, laki-laki dengan laki-laki atau perempuan dengan perempuan, karena hal itu melanggar prinsip perbedaan dan keragaman itu. Bila hal itu terjadi akan membuat jenis manusia akan punah dari permukaan bumi, sebab tidak aka nada manusia baru dilahirkan.

Juga nalar Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya terjadi saling kenal mengenal di antara manusia. Perbedaan suku-suku dan bangsa-bangsa itu adalah keniscayaan universal yang harus disikapi dengan lapang dada. Allah menciptakan perbedaan dan keragamaan suku-suku dan bangsa-bangsa tersebut sebagai suatu kondisi yang harus dijadikan pelajaran yang sangat berharga.

Manusia dituntut untuk hidup berdampingan secara damai tanpa saling mengeksploitasi satu sama lain. Keseimbangan semesta dalam kehidupan manusia akan terganggu sehingga akan menimbulkan ketidak-harmonisan dan perpecahan, yang pada giliran terakhir akan menyulut peperangan antar suku dan bangsa.

Untuk itulah melalui ayat tersebut Allah memberikan kunci guna mengatasi potensi ketidak harmonisan dan perpecahan melalui li ta’aarafuu, saling kenal mengenal di antara yang satu dengan yang lain. Membangun komunikasi, menciptakan dialog peradaban, dan pada ruang lingkup lebih kecil membangun tenggang rasa dan saling menghargai di antara yang satu dengan yang yang lain dalam berbedaan itu.

Akhirnya melalui ayat itu Allah menggaris bawahi satu pernyataan yang sungguh-sungguh genuine kur’ani, yakni bahwa sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu yang saling berbeda dan plural itu adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian.

Takwa dalam pengertian mendasar berhimpitan makna dengan ungkapan rabbaniyyah (semangat ketuhanan) yang secara bersungguh-sungguh berusaha memahami nalar Al-Qur’an, yakni upaya memenuhi fungsi hamba dan khalifah dalam mewujudkan rahmat bagi semesta alam. Perbedaan dalam nalar Al-Qur’an adalah sebagai media untuk berbuat dan beramal kebajikan. Firman Allah dalam Surah Al-Maidah ayat 48 :

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

‘’Dan seandainya Allah menghendaki, niscaya kalian sudah dijadikan satu ummat, akan tetapi Allah ingin menguji kalian atas apa yang telah diberikannya kepada kalian, maka berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan’’

Ayat Al-Qur`an di atas menegaskan bahwa, seandainya Allah menghendaki, niscaya kalian sudah dijadikan satu ummat, tidak berbeda, tidak plural, dan tidak beragam. Namun yang terjadi adalah berbeda, beragam dan pluralistik. Tujuannya adalah bahwa Allah ingin menguji kalian atas apa yang telah diberikan-Nya kepada kalian. Oleh sebab itu maka berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan.

Perbedaan yang ada di tengah umat manusia adalah Sunnatullah. Perbedaan itu diciptakan Allah sebagai sarana bagi mewujudkan sebesar-besar kebajikan dalam kehidupan. Bahkan kebajikan itu dikemas sebagai ajang perlombaan berfastabiqul khairat.

Dalam kaitan dengan pluralitas penganut agama, Islam mengajarakan tasamuh/toleransi dalam hubungan social/muamalah umat beragama. Dengan cara menciptakan rasa aman dan rasa keselamatan, hidup berdampingan secara damai dalam kalangan komunitas berbeda agama.

Namun perlu diingat bahwa bila sudah menyangkut akidah/iman, maka setiap muslim harus mampu menarik garis lurus dengan menempatkan diri pada posisi keimanan yang berseberangan dengan kekufuran dan kemusyrikan, sebagaimana diajarkan oleh surah Al-Kafirun “ Lakum dinukum waliyadin” Bagimu agamu dan bagiku agamamu.

Yunan Yusuf
Guru Besar Pemikiran Islam di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta