Bekal Menghadapi Kematian

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أما بعد،،
فيا أيها المؤمنون… أوصيكم وإياي نفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون. قال تعالى في كتابه الكريم، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
صدق الله العظيم.

Kaum muslimin, rahimakumullah.

Rasulullah saw. mengibaratkan kehidupan ini hanya seperti orang yang berjalan, lalu berteduh di bawah pohon, lalu berjalan lagi. Kita sekarang seolah sedang berteduh di bawah pohon yang sebentar lagi kita mau tidak mau harus melanjutkan perjalanan lagi. Tentu, karena kita akan melanjutkan perjalanan panjang, kita harus memanfaatkan keberadaan kita di bawah pohon. Jangan tidur terlalu lama. Jangan terlena dengan kenyamanan rindangnya dedaunan.

Kita juga harus menyiapkan bekal yang boleh jadi kurang atau akan habis. Sebaik-baik bekal, menurut Al-Qur’an, adalah ketakwaan.

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

Berbekallah, dan sebaik-baik bekal adalah ketakwaan. (QS al-Baqarah [2]: 197).

Tentu saja bekal takwa itu bisa dijabarkan secara singkat ataupun panjang lebar. Tapi dalam kesempatan ini, saya mengajak kita semua untuk membekali diri dengan setidaknya lima hal agar hidup kita berkualitas, agar perjalanan kita menuju kematian menjadi lebih baik.

Pertama, mari kita selalu mengingat janji kita kepada Allah. Sebelum kita dilahirkan oleh ibu kita di dunia, kita sudah memiliki ikatan perjanjian dengan Allah. Ini dapat kita baca di dalam Al-Qur’an:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ (17

(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini. (QS al-A’raf [7]: 172)

Mengingat-ingat perjanjian ini sama artinya kita memperbarui tauhid, memperbarui kesaksian kita bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Dan orang yang bersaksi dengan benar, dengan lidahnya, dengan hatinya, dan dengan perbuatannya, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dia dijamin bakal mati husnulkhatimah dan masuk surga. Rasulullah saw. bersabda, “Siapa yang perkataan terakhirnya adalah la ilaha illallah/ tiada tuhan selain Allah, dia akan masuk surga.”

Allah swt. sudah membantu kita untuk selalu mengingat janji itu. Salah satu ayat di dalam surah Al-Fatihah yang kita baca setiap kali kita salat adalah iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Hanya Engkaulah yang kami sembah, tempat kami mengabdi, dan hanya Engkau pula yang kami minta pertolongan. Ucapan ini adalah pengingat agar kita tidak pernah keluar dari tauhid mengesakan Allah.

Selain itu, kita juga sering mengucap janji kepada Allah pada saat kita melakukan salat:

إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين

Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan Pemelihara alam semesta.

Janji itu menuntut kita untuk melandasi semua aktivitas hidup kita hanya karena Allah. Salat karena Allah, bekerja mencari nafkah karena Allah, belajar menuntut ilmu karena Allah, dan seterusnya.

Kedua, meski begitu, dalam kenyataan banyak sekali orang yang tidak bisa mengucap la ilaha illallah pada saat menghadapi maut. Banyak orang yang ketika dibimbing untuk mengucap la ilaha illallah pada detik-detik sakaratulmaut, tetap tidak bisa mengucapkannya. Karena itu, dibutuhkan upaya sungguh-sungguh saat sakaratulmaut belum tiba.

Bersungguh-sungguh dalam hal apa? Tentu saja dalam hal beribadah dan beraktivitas hidup untuk mati itu tadi. Dengan kita bersungguh-sungguh, Allah akan membimbing kita, Allah akan memberikan jalan yang baik kepada kita, termasuk membimbing kita agar dapat mati dalam keadaan husnulkhatimah.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فَينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ المُحْسِنِينَ

Orang-orang yang bersungguh-sungguh, berjihad, berupaya maksimal, untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS al-‘Ankabut [29]: 69)

Bersungguh-sungguh ini sangat penting. Cukup banyak ayat Al-Qur’an yang mengandung makna ‘sungguh-sungguh ini’. Misalnya: ittaqullâh haqqa tuqâtih (bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa). Wa jâhidu fillâh haqqa jihâdih (berjuanglah di jalan Allah dengan sebenar-benarnya). Dan lain sebagainya.

Artinya, ketika kita bisa bersungguh-sungguh untuk belajar hingga lulus sekolah dengan baik, ketika kita bisa bersungguh-sungguh bekerja hingga larut malam untuk mendapat hasil yang baik, mengapa kita tidak bersungguh-sungguh berupaya agar kata-kata terakhir yang kita ucapkan saat sakratulmaut adalah la ilaha illallah?

Jangan pernah kita salat asal salat. Jangan pernah puasa asal puasa. Jangan pernah sedekah asal sedekah. Jangan pernah hidup asal hidup, tapi hidup yang bersungguh-sungguh.

Ketiga, bekal yang harus kita persiapkan untuk menghadapi kematian juga adalah kewaspadaan selalu diawasi oleh Allah. Dengan waspada bahwa kita selalu berada dalam pengawasan Allah, kita akan merasa tenang, karena pengawasan Allah pada hakikatnya bukan untuk mencari-cari kesalahan kita, tetapi lebih untuk menyelamatkan kita.

Merasa diawasi oleh Allah akan melahirkan ketenangan yang pada gilirannya aktivitas bekerja dan beribadah kita akan semakin terarah, maksimal, dan benar, tidak asal-asalan.

Merasa diawasi oleh Allah juga akan membuat kita berkata apa adanya. Tidak bohong, tidak munafik, lain di mulut lain di hati. Jujur, baik pada diri sendiri maupun kepada orang lain. Dengan sifat-sifat baik seperti itu, kita berharap mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba Allah yang berjiwa tenang menghadapi kematian:

يا أيتها النفس المطمئنة ارجعي إلى ربك راضية مرضية فادخلي في عبادي وادخلي جنتي

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan rida dan diridai. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.

Keempat, kita juga perlu bermuhasabah, menghitung-hitung diri kita sebelum kita mati, sebelum kita benar-benar dihitung oleh Allah. Kebaikan kita akan dihitung, dosa kita akan dihitung pada hari yang pasti, yang tidak ada seorang pun bisa memanipulasi sehingga hitungan itu menjadi berpihak kepadanya.

Umar bin Khattab pernah mengatakan

حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا

Periksalah, hitung-hitunglah dirimu sendiri sebelum kamu benar-benar dihitung nanti.

Sudah baikkah kita kepada tetangga, kepada karib kerabat kita, kepada umat manusia. Masih adakah ucapan dan tindakan kita yang menyakiti orang lain. Masih adakah rasa sombong di dalam diri kita bahwa kita paling benar, paling baik, paling islami. Dan seterusnya.

Hasan Bashri, ulama sufi dari Bagdad, bahkan mengatakan, “Orang yang sudah terbiasa menghisab dirinya sendiri, mengintrospeksi dirinya sendiri, akan mudah menghadapi perhitungan Allah pada hari Kiamat”.

Kelima, mari kita latih diri kita untuk dapat menghadapi maut dengan baik dengan cara memberi sanksi ketika kita berbuat salah. Dulu, Umar bib Khattab menyedekahkan sebidang tanahnya ketika menyadari dirinya terlambat mengikuti salat berjamaah. Ada orang saleh yang setiap kali tergelincir melakukan kesalahan segera menghukum dirinya dengan mengeluarkan sedekah. Berapa pun besarnya.

Dengan cara seperti itu, kita akan terbiasa tegas dan berdisiplin pada diri sendiri. Hal itu pada gilirannya akan membuat kita semakin komitmen pada ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.

Sidang Jumat rahimakumullah,

Demikianlah khutbah Jumat kita kali ini. Mudah-mudahan Allah swt. melindungi kita dari praktik utang-piutang yang menyulitkan.

بارك الله لي ولكم في القرآن الكريم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم. أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المؤمنين من كل ذنب، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.