Orang yang Sangat Pelit Menurut Nabi

Tahukah Anda! siapakah orang yang sangat pelit menurut Nabi Saw? Ya, benar, bukan orang yang mengekang hartanya dan bukan pula orang yang sulit dimintai bantuan. Tetapi, orang yang ketika nama Nabi Muhammad Saw., terdengar di sisinya, ia enggan menimpalinya dengan bersholawat kepadanya.

Hal ini berdasarkan sabda Nabi Saw., yang menegaskan bahwa,

البَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيّ

“Orang yang sangat pelit adalah orang yang ketika namaku disebut di sisinya, ia tidak mau bersholawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi: 3.546)


Kenapa bisa demikian? Mari kita lihat syarahnya.
Dalam kitab Syarah Tuhfatul Ahwadzi, karya Imam Al-Mubarakfury, dijelaskan, bahwa makna kata البخيل adalah orang yang sempurna sifat pelitnya. Hal ini dikarenakan kata البخيل dalam gramatikal bahasa Arab ia mengikuti pola wazan فعيل, yakni sighot mubalaghoh yang menunjukkan arti “sangat”.

Sehingga, berdasarkan hadis Nabi Saw., di atas, orang yang sangat pelit -bukan hanya sekadar, tetapi sangat- adalah orang yang ketika nama Nabi Saw., disebut di sisinya, ia tidak mau bershalawat kepadanya.

Hal ini sangat beralasan. Betapa tidak?! Menjawab sholawat sebagai bentuk pengagungan ketika nama Nabi terdengar adalah sesuatu yang gratis dan ringan untuk dikerjakan. Kita tidak perlu mengeluarkan harta dan repot-repot untuk melakukannya. Terlebih, Nabi sendiri juga telah bersabda, bahwa orang yang mau bersholawat kepadanya satu kali, maka Allah akan mengucurkan rahmat kepadanya sepuluh kali, menghapus darinya sepuluh kesalahan dan mengangkat baginya sepuluh derajat.

Sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Nasai berikut,

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ، وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ

“Barangsiapa yang bersholawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bersholawat (mencurahkan rahmat) kepadanya sepuluh kali, menghapuskan darinya sepuluh kesalahan, dan diangkat baginya sepuluh derajat.” (HR. An-Nasai: 1.297)

Lebih dari itu. Nabi sendiri juga memang sosok yang sanga pantas untuk mendapatkan pengagungan demikian. Karena beliau adalah sebaik-baik makhluk sepanjang zaman. Bagaimana tidak?! Allah sendirilah yang telah memujinya dengan sebaik-baik pujian. Sebagaimana yang dilukiskan dalam firman-Nya,

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas budi pekerti yang luhur.” (QS. Ql-Qalam: 4)

Lihatlah, pujian Allah kepada Nabi Muhammad Saw., di atas! Allah memujinya dengan mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw., itu berada di atas budi pekerti yang luhur, bukan hanya sekadar memilikinya, tetapi berada di atasnya. Ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Saw., itu berada di atas puncak keluhuran. Karena beliau memang manusia pilihan nan agung yang pantas untuk kita beri pengagungan.

Terlebih, Allah sendiri juga telah memerintahkan kita untuk bersholawat-salam kepadanya, setelah Dia sendiri dan para malaikatnya yang melaksanakan perintah itu sebelum memerintahkannya (QS. Al-Ahzab: 56). Maka, sungguh sangat nyata, kebakhilan seseorang yang mengaku mencintai Nabi Muhammad Saw., dan mengharapkan syafaatnya, namun di saat mendengar nama beliau disebut di sisinya, ia masih berat atau bahkan enggan memberikan pengagungan dengan bersholawat kepadanya.

Oleh karena itu, jika kita tidak ingin termasuk golongan orang yang dimaksud oleh hadis Nabi Saw. di atas, yakni orang-orang yang sangat pelit menurut beliau, maka marilah kita senantiasa paling tidak membaca sholawat ketika nama mulia Nabi terdengar. Syukur-syukur kita bisa mendawamkannya di sebagian besar waktu-waktu kita, tanpa terlebih dahulu menunggu nama beliau disebutkan di sisi kita.

 

Hasyim Asy'ari
Mahasiswa di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir | + posts