Ragam Kejujuran

Kalau diberi peringkat, derajat kejujuran menempati tempat yang sangat tinggi karena dia berada setelah tingkat para nabi. Oleh sebab itu, mereka yang jujur, tingkatannya berada di bawah derajat Nabi. Mereka ini akan ditempatkan di dalam surga dan memasukinya bersama para nabi.

Allah memerintahkan orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya agar selalu bersama orang-orang yang jujur. Dengan begitu, Allah akan menempatkan orang-orang yang jujur bersama nabi di dalam surga, bersama orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Allah di dalam QS. Al-Nisa‘ [4]: 69:

وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَعَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلنَّبِيِّ‍ۧنَ وَٱلصِّدِّيقِينَ وَٱلشُّهَدَآءِ وَٱلصَّٰلِحِينَۚ وَحَسُنَ أُوْلَٰٓئِكَ رَفِيقٗا

“Dan Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin (orang-orang yang amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran rasul), orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.”

Hakikat kejujuran adalah apa yang dikatakan dan dilakukan sesuai dengan apa yang ada di dalam hati dan sesuatu dengan kenyataan yang ada. Kalau seseorang mengucapkan sesuatu yang bertentangan dengan hati dan kenyataan yang ada, maka ia telah berbohong.


Kejujuran sering digunakan dalam beberapa hal. Mahmud al-Mishri membagi macam-macam kejujuran atas beberapa bahagian, yaitu:

1. Jujur dalam perkataan. Kejujuran dalam kategori ini adalah kejujuran yang terkait dengan lidah. Lidah adalah alat yang digunakan berbicara, dan setiap orang harus menjaga lidahnya agar dia tidak mengatakan kebohongan. Kebohongan yang diucapkan lidah adalah kebohongan yang paling populer. Setiap orang berkewajiban untuk kejujuran dan menghindari kebohongan dalam segala ucapan dan perkataannya. Dalam pergaulan kita sehari-hari, kebohongan dalam ucapan dan perkataan seringkali terjadi dan ini sangat mudah dilakukan.

2. Jujur dalam niat dan kehendak. Kejujuran kategori ini adalah kejujuran yang terkait dengan hati. Dalam berniat dan berkehendak, seseorang harus jujur. Jika seseorang mempunyai niat untuk melakukan sesuatu karena selain Allah, maka ia sebenarnya melakukan kebohongan dalam berniat, karena niat yang jujur adalah niat yang semata-mata ditujukan untuk Allah swt.

3. Jujur dalam berkeinginan dan merealisasikannya. Kejujuran yang terkait dengan hal ini ialah kejujuran antara apa yang dikatakan dengan kebenaran yang dilakukan. Harus diyakini bahwa kejujuran dari apa yang dikatakan harus sesuai dengan apa yang dilakukan.

4. Jujur dalam bertindak. Setiap orang harus jujur dalam segala tindakannya. Tindakan yang dilakukannya harus sesuai dengan apa yang diniatkannya di dalam hatinya. Kejujuran dalam bertindak ini yaitu kejujuran yang sesuai antara niat dan tindakan nyata. Apa yang ada di dalam hatinya harus diwujudkannya sesuai dengan niatnya. Orang yang berpura dalam bertindak merupakan salah satu contoh ketidakjujuran dalam bertindak.

5. Jujur dalam hal keagamaan. Ulama mengkategorikan bahwa kejujuran dalam kategori ini adalah kejujuran yang paling tinggi tingkatannya dibandingkan kejujuran lain. Ada beberapa ciri kejujuran dalam hal keagamaan ini ialah kejujuran dalam hal rasa takut kepada Allah swt dengan takwa yang sebenarnya. Kejujuran lain ialah mengharap ridha Allah swt, cinta kepada-Nya dengan cinta yang sebenarnya. Ini berarti bahwa kejujuran dalam hal keagamaan adalah kejujuran seseorang terhadap Allah swt. dan rasul-Nya.

Kejujuran dam kebenaran yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah baik dalam bentuk ucapan maupun dalam bentuk perbuatan dan tindakan Rasulullah, harus dimplementasikan oleh setiap muslim dalam kehidupan mereka, dalam kehidupan individu, dalam kehidupan keluarga, dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsam dan berbangsa.

Begitu berat bagi sebahagian kaum muslimin untuk menerapkan tuntunan Rasulullah untuk berlaku jujur dan benar. Kejujuran hanya tinggal dalam ucapan, tidak dalam bentuk perbuatan. Dalam era pergaulan modern seperti yang kita alami sekarang ini, seharusnya kejujuran menjadi tonggak dan fondasi dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Tetapi, kebohongan merajalela dan dilakukan oleh banyak orang, termasuk pemimpin masyarakat.

Kejujuran dan kebenaran yang ingin diwujudkan itu menjadi sangat lemah dalam penerapannya dan bahkan hilang sama sekali karena ditekan dan dihancurkan oleh berbagai kepentingan individu, dalam meraih kedudukan, jabatan, kekayaan, dan popularitas, dan dihancurkan oleh kepentingan-kepentingan politik dan kekuasaan.

Dewan Pakar di Pusat Studi Al-Quran | + posts

Guru Besar dalam bidang Pendidikan Bahasa Arab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Ahmad Thib Raya

Guru Besar dalam bidang Pendidikan Bahasa Arab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta