Mensyukuri Nikmat Lisan

Allah swt menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya penciptaan, di antara bentuk keunikan manusia dalam penciptaan-Nya ialah mulut dengan beragam fungsi dan manfaat. Salah satunya untuk berkomunikasi antar sesama, Allah swt mengingatkan di dalam kitab-Nya

Apakah Dia menyangka bahwa tiada seorangpun yang melihatnya? Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (QS. Al-Balad [90]: 7-10)

Ayat di atas masih berkaitan dengan ayat-ayat sebelumnya. M. Quraish Shihab menyebutkan bahwa ayat-ayat yang lalu menggambarkan ucapan manusia yang melampaui batas, serta sangat angkuh. Maka kemudian Allah Swt. mengingatkan melalui ayat tersebut. Dan ayat-ayat di atas, tujuannya bukan untuk menyebutkan aneka nikmat yang diperolehnya. Tetapi untuk mengingatkan bahwa Allah Swt. menganugerahkan kepadanya potensi yang mestinya digunakan untuk mencapai kebahagiaan hidup duniawi dan ukhrawi.

Secara spesifik Abu Hayyan menyebutkan terkait fungsi lisan bagi setiap manusia, ialah berbicara. Sedangkan kedua bibirnya untuk mengunci dan mengontrol sesuatu yang akan keluar dari lisan itu. Termasuk juga untuk kebutuhan lain seperti makan, minum, meniup dan sebagainya.

Mulut adalah anugerah yang patut kita syukuri. Berlandaskan pada ayat di atas Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (QS. Al-Balad [90]: 10) yang kemudian dikorelasikan oleh mayoritas Mufassir dengan ayat (QS. Al-Dahr [76]: 3), merupakan dua pilihan yang harus kita tentukan kemana arah lisan ini digunakan, apakah untuk mensyukuri-Nya. (imma syakira) atau mengingkari-Nya (wa imma kafura)?

Selain itu, al-Baghawi mengutip ungkapan Qatadah dalam tafsirnya bahwa mata, lisan dan bibir merupakan nikmat Allah paling nampak yang putut kita syukuri. Berdasarkan Sabda Nabi Saw. Allah Swt. berfirman,

“Wahai anak Adam, Aku telah menganugerahkan nikmat-nikmat yang besar kepadamu, yang tidak dapat kamu hitung jumlahnya, dan kamu tidak mampu mensyukurinya. Dan sesungguhnya di antara nikmat-nikmat yang telah aku berikan adalah Aku menjadikan dua buah mata yang dengan keduanya kamu bisa melihat, dan Aku jadikan bagi keduanya kelopak. Maka gunakanlah untuk memandang apa yang telah Kuhalalkan bagimu, dan jika kamu melihat apa yang telah Kuharamkan bagimu, maka tutuplah dengan dua kelopaknya. Dan Aku telah menjadikan bagimu lisan dan Kujadikan pula untuknya penutupnya. Maka berbicaralah sesuai apa yang telah Kuperintahkan dan Kuhalalkan kepadamu.dan jika disajikan kepadamu apa yang telah Kuharamkan atasmu, maka turunkanlah penutupnya. Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu tidak akan mampu menanggung murka-Ku dan tidak akan mampu menahan siksa-Ku. (HR. Al-Hafidz Ibn ‘Asakir dikutip di dalam Tafsir Ibn Katsir).

Dapat kita pahami bahwa ayat di atas merupakan petunjuk bagaimana cara memanfaatkan mata dan lisan sebagai manifestasi rasa syukur kita kepada Allah Swt. yakni untuk kebaikan dan beribadah kepada-Nya. dengan kemampuan melihat maka lihatlah sesuatu yang halal dan bermanfaat. Demikian halnya dengan lisan, maka gunakanlah untuk berbicara sesuatu yang baik dan dengan cara yang patut.

Dalam riwayat yang lain, Rasulullah Saw. mengingatkan agar umatnya menjaga lisannya dari perkataan-perkataan buruk. Sebagaimana sabda beliau,
“Bukanlah golongan orang yang beriman orang yang suka mencela, melaknat, berkata keji dan tidak sopan” (HR. Tirmidzi)

Oleh sebab itu, ucapkalah kata-kata yang baik, kata-kata yang mengajak kepada kebenaran, perbanyaklah dzikir kepada allah, memohon ampunan dan membaca Al-Qur’an. Jika memang dirasa tidak mampu selain harus berkata buruk atau tidak bermanfaat, maka lebih baik diam. Inilah cara terbaik untuk menjaga lisan kita.


Selanjutnya bentuk lain syukur lisan kita adalah dengan memelihara dari masuknya makanan yang haram dan tidak baik, (QS. Al-Baqarah [2]: 168 dan 172). Buya Hamka mengungkapkan, “Bahwa tidak ada selain Allah Swt. yang telah menyediakan makanan yang baik untuk kita. dan terasalah dalam ayat tersebut bahwa kita boleh makan asal baik. dan kita makan diiringi syukur kepada-Nya. karena Dialah yang menyediakan makan”.

Lebih jelas lagi, salah satu petikan pemikiran Jalaluddin Rumi bahwa manusia dapat memberinya topi dan jas, tetapi Allah memberikan sesuatu yang lebih berharga; kepala dan tubuh.

Meski tuan sangat murah hati,
Namun, Ya Tuhan,
Itu tidak dapat dibandingkan dengan karunia-Mu
Dia memberikan topi,
Sedangkan Engkau kepala dan akal,
Dia memberikan makanan lezat,
Engkau selera.

Artinya, Allah Swt. sudah menyiapkan semuanya bagi manusia; makanan juga daya untuk menikmati makanan itu. Oleh sebab itu, mensyukuri lisan bukan sekadar makan dan minum semau kita, tetapi juga memperhatikan kualitas makanan cara makannya.

Lebih dari itu, makanan yang thayyib dan halal dapat mempengaruhi terqabulnya sebuah do’a, Rasulullah saw. bersabda kepada Sa’ad bin Abi Waqash:
“Wahai Sa’ad! Perbaikilah makanan kamu, niscaya kamu akan dijadikan oleh Allah seorang hamba yang makbul doanya.” (HR. Ibnu Mardawaihi dari Ibnu Abbas).

Dengan demikian, lisan sangat menentukan kehidupan manusia. Mensyukurinya merupakan jalan utama yang harus dipilih agar dapat membawanya ke arah yang lebih baik. Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, mulailah dengan latihan tidak berkata kecuali yang baik atau memilih diam. Kemudian, mengontrol setiap makanan atau manuman sebelum dikonsumsi. Dengan begitu, secara perlahan hidup kita akan berubah sesuai harapan dalam doa yang kita panjatkan, fi al-dunya hasanah wa fi al-akhirati hasanah.

 

Dosen di Universitas Ibrahimy Sukorejo Situbondo

Alumnus Pascatahfidz angkatan ke XIII asal Situbondo. Sebelumnya nyantri di Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo. Alumnus MI-MA di Nurul Qur'an Kraksaan, S1 di IAI Ibrahimy Sukorejo dan S2 di PTIQ Jakarta.

Ahmad Royhan Firdausy

Alumnus Pascatahfidz angkatan ke XIII asal Situbondo. Sebelumnya nyantri di Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo. Alumnus MI-MA di Nurul Qur'an Kraksaan, S1 di IAI Ibrahimy Sukorejo dan S2 di PTIQ Jakarta.