Pintu Ma’rifah kepada Allah

إِذَا فَتَحَ لَكَ وِجْهَةً مِنَ التَّعَرُّفِ، فَلَا تُبَالِ مَعَهَا أَنْ قَلَّ عَمَلُكَ،
فَاِنَّهُ مَا فَتَحَهَا لَكَ، إِلَّا وَهُوَ يُرِيْدُ أَنْ يَتَعَرَّفَ اِلَيْكَ،
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ التَّعَرَّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ،
وَ الأَعْمَالَ أَنْتَ مُهْدِيْهَا اِلَيْهِ، وَأَيْنَ مَا تُهْدِيْهِ اِلَيْهِ، مِمَّا هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ .

“Jika Allah membuka pintu ma’rifah kepadamu,maka janganlah engkau hiraukan mengapa hal itu terjadi, padahal amalmu sedikit. Allah tidak membuka pintu ma’rifah kepadamu melainkan Dia ingin mengenalkan Diri-Nya kepadamu. Tidakkah engkau mengerti bahwa ma’rifah adalah sesuatu yang datang dari Allah untukmu, sedangkan amal adalah sesuatu yang engkau berikan untuk-Nya. Mana yang lebih utama sesuatu yang engkau berikan untuk-Nya dibandingkan dengan sesuatu yang datang dari pada-Nya untukmu?”

Ma’rifah ialah mengetahui Allah dengan hati sanubari. Dengan kata lain, pengalaman rohani merasakan kehadiran Allah di dalam hati dan menyaksikan keagungan-Nya. Ma’rifah membawa kepada keyakinan yang sangat kuat, bahwa Allah sungguh nyata, Maha Besar, serta Maha Indah sifat-sifat-Nya.

Ibn ‘Atha’illah mengatakan Idza fataha laka wijhatan min al-ta’arruf fala tubali ma’aha an qalla ‘amaluka, jika Allah membuka kepadamu pintu mengenal Allah, maka janganlah engkau hiraukan, janganlah engkau terkejut, karena amalmu sedikit. Kata wijhat berarti al-jihat, yaitu arah, yang dimaksud ialah jalan, pintu, atau jendela, wijhat al-ta’arruf berarti jalan atau pintu ta’arruf, yaitu pintu ma’rifah kepada Allah. Alam ta`lam anna al-ta`arrufa huwa muriduhu ‘alaika, tidakkah engkau mengerti bahwa pengenalan kepada Allah adalah sesuatu yang Dia, Allah, menyampaikannya kepadamu. Allah membuka pintu ma’rifah kepadamu karena Dia ingin mengenalkan Diri-Nya kepadamu, maka Allah memilihmu, mendekatkan engkau, menarik engkau kepada-Nya. Dengan kata lain, ma’rifah kepada Allah adalah anugerah yang diberikan Allah kepadamu.

Kalimat selanjutnya, wa al-a’mal anta muhdiha ilayhi, sedangkan amal perbuatan (yakni amal perbuatan yang engkau lakukan) adalah sesuatu yang engkau berikan kepada Allah, yakni ibadah menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangan Allah. Kalimat yang terakhir, wa ayna ma tuhdihi ilayhi mimma huwa mūriduhu ‘alayka, manakah yang lebih utama, dengan kata lain dapatkah dibandingkan “apa yang engkau berikan untuk-Nya”, yakni amal perbuatanmu dengan “sesuatu yang datang dari pada-Nya untukmu”, yakni ma’rifah yang merupakan anugerah Allah kepadamu? Kalimat tersebut adalah istifham inkari, pertanyaan yang bersifat pengingkaran, tidak membutuhkan jawaban, karena jawabannya sudah jelas, yaitu bahwa keduanya tidak dapat dibandingkan. Apa yang diberikan Allah kepadamu jauh lebih agung dan mulia daripada apa yang engkau berikan kepada Allah. Apa yang engkau berikan kepada Allah tidak dapat dibandingkan dengan anugerah yang diberikan Allah kepadamu.

Ma’rifah kepada Allah dapat diperoleh dengan dua cara. Pertama, dengan menempuh jalan, yaitu jalan mendekatkan diri kepada Allah. Jalan yang panjang yang ditempuh antara lain dengan memperbanyak ibadah, meningkatkan akhlak, membaca Al-Qur’an, memperbanyak dzikir, dan memelihara hati agar senantiasa ingat kepada Allah. Kedua, ma’rifah diperoleh karena tarikan dari Allah. Jalan yang pertama ialah jalan yang ditempuh dengan usaha, dengan riyadhat dan mujahadat, serta dengan takhalli dan tahalli. Sedangkan jalan yang kedua adalah jalan ijtiba, yakni tarikan, jadzb, dari Allah kepada hamba-Nya yang dikehendaki-Nya. Allah swt. berfirman:
“Allah memilih kepadanya siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepadanya siapa yang kembali”. (QS. Al-Syura: 13).

Hikmah tersebut di atas berkaitan dengan cara yang kedua. Terkadang Allah menarik siapa yang Dia kehendaki dari hamba-Nya kepada-Nya, tanpa sebab-sebab yang diketahui oleh manusia. Hal ini telah terjadi baik pada masa Rasulullah saw. ataupun pada masa-masa sesudahnya. Sahabat Umar bin Khattab dikenal sebagai orang yang pada mulanya memusuhi Islam, tiba-tiba masuk Islam, karena mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an. Allah memberikan karunia pembicaraan kepadanya, sebagai mana tersebut dalam sabda Rasulullah saw.,“Jika ada orang-orang yang mendapat pembicaraan dari Allah (muhaddatsun), maka dia adalah ‘Umar”.

Tersebut dalam kisah para sufi, Fudhail bin ‘Iyadh, sebelum menjadi sufi, dikenal sebagai orang yang buruk perangainya. Pekerjaannya merampas harta benda para musafir yang melewati pegunungan yang menjadi tempat persembunyiannya di Khurasan. Suatu hari ia mendengar suara seseorang membaca ayat suci Al-Qur’an:

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk menundukkan hati mereka mengingat Allah dan mengikuti kebenaran yang diturunkan kepada mereka. Dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan kepadanya Al-Kitab, kemudian berlalu masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras”. (QS. Al-Hadid: 16).

Mendengar ayat Al-Qur’an tersebut, Fudhail tergetar hatinya. Ia sadar telah banyak berbuat dosa kepada Allah. Ia berkata: “Ya Tuhan, telah datang waktunya saya bertobat, Engkau telah memanggilku untuk kembali kepada-Mu. Saya berjanji akan mencurahkan diri beribadah kepada-Mu di Rumah-Mu yang Mulia”. Fudhail lalu meninggalkan pekerjaannya, pergi ke tanah suci, mencurahkan waktunya untuk beribadah kepada Allah swt.

Kisah ini menjelaskan apa yang dikatakan oleh Ibn ‘Atha’illah dalam hikmah tersebut di atas. Bahwa Allah membuka pintu ma’rifah kepada hamba-Nya, walaupun amalnya sedikit atau bahkan ia adalah orang yang penuh dosa. Hidayah datang dari Allah, boleh jadi sebagai ganjaran atas amal perbuatan yang dilakukan hamba-Nya, boleh jadi karena sebab-sebab yang tidak diketahuinya sebagai anugerah yang diberikan kepada siapa yang dikehendakinya. Allah swt. berfirman:

“Akan datang suatu kaum yang Allah mencintainya dan mereka mencintai Allah” (QS. Al-Maidah: 54).

Dalam ayat tersebut, Allah swt. berfirman “yuhibbuhum” (Allah mencintai mereka), diikuti dengan “wayuhibbunahu” (dan mereka mencintai Allah). Didahulukan kata “yuhibbuhum” daripada “yuhibbunahu,” sebagaisebagai isyarat bahwa kecintaan manusia kepada Allah adalah karena tarikan dari kecintaan Allah kepada meraka. Demikian Syaikh Buthi menjelaskan dalam kitabnya.

Ibnu Athaillah berkata apabila Allah membuka pintu ma’rifah kepadamu janganlah engkau hiraukan amalmu sedikit. Perkataan “an qalla ‘amaluka”, bahwa amalmu sedikit, menjelaskan keadaan sebelum Allah membuka pintu ma’rifah. Janganlah dipahami bahwa orang yang telah dibuka pintu ma’rifah kepadanya sedikit amal ibadahnya kepada Allah. Semoga Allah membuka kepada kita pintu ma’rifah kepada-Nya.

Pengasuh Pascatahfidz Bayt Al-Quran 2010-2012

A Wahib Muthi

Pengasuh Pascatahfidz Bayt Al-Quran 2010-2012