Hakikat Ilmu, Bukan Sekedar Pengetahuan

اَلاَ لاَتَنَــــالُ الْعِـــلْمَ اِلاَّ بِســــــِتَّةٍ ۞ سَأُنْبِيْكَ عَنْ مَجْمُوْعِهَا بِبَيَانٍ
Elingo dak hasil ilmu anging nem perkoro # bakal tak crita’ke kumpule kanti pertelo.
(Ingatlah, kamu tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara, akan saya jelaskan semuanya dengan terperinci).

ذُكَاءٍ وَحِرْصٍ وَاصْطِبَارٍوَبُلْغَةٍ ۞ وَاِرْشَادُ اُسْتَاذٍ وَطُوْلِ زَمَانٍ
Rupane limpat lobo sobar ono sangune # lan piwulange guru lan sing suwe mangsane.
(Cerdas, semangat, sabar, biaya, petunjuk guru dan masa yang lama).

Dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim, Syaikh Burhânuddîn Ibrâhim al-Zarnûji al-Hanafi (W. 519 H) menukil syair ini dari Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib r.a. Ringan tapi sangat bermakna: “Ilmu bisa diperoleh dengan 6 syarat: cerdas, semangat, sabar, biaya, petunjuk guru dan masa yang lama”.

Namun, pernahkah terbesit pertanyaan dalam benak kita, “Mengapa syarat dalam mendapat ilmu harus cerdas? Bukankah semua orang –baik cerdas atau tidak- berhak menuntut ilmu?” atau “Mengapa dibutuhkan semangat, sabar, biaya, petunjuk guru dan masa yang lama? Bukankah mencari ilmu itu mudah? Apalagi di zaman sekarang. Di zaman yang serba canggih ini, dengan scrolling Instagram, Twitter, WhatsApp, dan kawan-kawan sosmed lainnya, rasanya ilmu bisa diperoleh dengan mudah, sambil rebahan, atau ngopi santuy pun bisa”.

Setelah dikulik kembali, ternyata ilmu yang dimaksud di dalam syair tersebut adalah ilmu yang bukan sembarang ilmu. Bukan ilmu yang disebut dalam kata mutiara, “Ilmu dapat diperoleh di mana saja dan kapan saja” yang berarti ilmu ada di jalan, di bus, atau di manapun yang bisa diperoleh tanpa syara-syarat tertentu –dimana penjelasannya akan saya terangkan lebih lanjut di paragraf selanjutnya.

Oleh karena itu Syeikh Mushthafa Ridha al-Azhary, di dalam kitabnya yang berjudul at-Thuruq al-Manhajiyyah fi Tahshil al-‘Ilmi as-Syar’iyyah, beliau menyebutkan bahwasannya seorang pencari ilmu wajib mengetahui perbedaan antara al-‘ilmu (ilmu) dan al-ma’lumat (pengetahuan). Adapun Ilmu itu memiliki adawat (alat-alat mencari ilmu) yang terdiri dari guru, akal yang jernih, kitab yang benar, serta ketekunan. Selain itu juga dibutuhkan manhaj (metode) yang terdiri dari qowaid (kaidah-kaidah), dhowabith (ketentuan-ketentuan) dan ushul (dasar) tertentu. Hal ini berbeda dengan ‘pengetahuan’ yang bisa didapat dari membaca sana-sini dan tidak memiliki metode tersendiri.

Walaupun kata “ilmu” dan “pengetahuan” sering beriringan, ternyata keduanya memiliki arti yang berbeda. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) “ilmu” bermakna pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu dalam bidang (pengetahuan) itu. Sedangkan “pengetahuan” adalah nomina yang berasal dari kata dasar “tahu” yang berarti mengerti sesudah melihat (menyaksikan, mengalami, dan sebagainya).

Dari penjelasan singkat di atas kita dapati bahwa ilmu bukanlah hal yang bisa didapatkan dengan mudah, perlu beberapa ‘alat lain’ seperti kecerdasan, waktu yang lama, biaya yang tidak sedikit dll seperti yang saya sebutkan di atas. Cerdas dalam mengatur waktu, cerdas dalam memilih apa yang harus dilakukan dan apa yang harus ditinggalkan sebagai tholib al-‘ilmi, cerdas dalam mendengar, mencatat, mengulang materi yang diajarkan, berdiskusi, dan menghafal. Serta faktor eksternal lainnya.

Perkara penting lainnya adalah petunjuk guru (sanad). Dalam mencari ilmu agama khususnya, hal ini penting untuk menjaga keorisinal sanad keilmuan sampai Rasulullah SAW. Dan lagi-lagi, semua itu tidak bisa diperoleh dengan waktu yang singkat, mengapa? Karena dalam mencari ilmu harus ber-manhaj (bermetode) yang baik dan benar. Salah satunya dengan menapaki jalan mencari ilmu sebagaimana yang sudah diajarkan oleh para Ulama’ terdahulu.

Untuk memahami sebuah ilmu, perlu adanya step-step dalam mendapatkannya. Tidak bisa ujug-ujug seorang pencari ilmu melompati dasar-dasar kaidah tata Bahasa, kemudian langsung membaca kitab berjilid-jilid, misalnya. Dalam mempelajari ilmu kaidah tata Bahasa Arab pun juga harus dimulai dari mempelajari ilmu level mubtadi’ (permulaan), dilanjutkan ke tingkat mutawassith (pertengahan), baru setelahnya muntahi (akhir) dengan berguru. Berkali-kali saya tekankan ‘dengan berguru’, bukan dengan membaca-baca sendiri, yang mana hal ini juga berlaku tidak hanya untuk ilmu kaidah tata Bahasa, tapi semua ilmu yang ada. Kecuali untuk muthola’ah atau memperluas kandungan dari ilmu tersebut, karena seorang guru juga tidak mungkin menyuapi seorang murid semua kitab yang ada, yang tak terhitung banyaknya.

Ke-enam syarat yang saya sebutkan di awal tulisan ini harus dipenuhi oleh para pencari ilmu, terutama bagi thullab al-‘ulum as-syar’iyyah (para pencari ilmu agama). Sehingga diharapkan para bagi penuntut ilmu agama nantinya agar bisa menyebarkan ilmu Allah dan Rasul-Nya kepada ummat dengan benar. Tidak seenaknya mengajar atau berceramah yang menyangkut hukum Allah dan Rasul-Nya dengan sesuatu yang tidak diketahui kebenarannya dan asal muasalnya.

Kita dapati akhir-akhir ini, begitu banyak munculnya pemilik pengetahuan yang banyak tapi tidak diiringi dengan sanad keilmuan yang jelas, mereka berdiri di depan masyarakat untuk menyebarkan ilmu tapi tidak didasari dengan step-step di atas. Perkara ini memiliki efek yang sangat berbahaya, sebagaimana yang dikatakan Imam Ibnu Hazm ad-Dzahiri rahimahullah (W. 456 H) dalam kitabnya “al-Akhlaq wa as-Sair Mudawah an-Nufus”:

لا آفة على العلوم وأهلها أضر من الدخلاء فيها وهم من غير أهلها فإنهم يجهلون ويظنون أنهم يعلمون ويفسدون ويقدرون أنهم يصلحون

“Tidak ada kerusakan pada ilmu dan ahlinya yang lebih berbahaya daripada masuknya orang-orang yang bukan dari ahlinya. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang bodoh akan tetapi mereka mengira bahwa mereka tahu, dan mereka adalah orang yang membuat kerusakan akan tetapi menganggap bahwasannya mereka adalah yang menciptakan kemaslahatan”.

Mencari ilmu bukan hal yang mudah. Perlu adanya tekad dan hati yang kuat. Namun jika dirasa tidak bisa mencapai semuanya, setidaknya memiliki niat atau keinginan dahulu untuk menggapainya. Tak lupa, berusaha sebisa mungkin, sedikit demi sedikit dengan memegang salah satu kaidah Ushul Fikih yang berbunyi ما لا يدرك كله لا يترك كله , “Apa yang tidak bisa didapati seluruhnya, jangan tinggalkan semuanya”. Wallahu al-musta’an.

Fitrotul Maulidina
Mahasiswi di Universitas Al-Azhar Kairo

Alumnus Bayt Al-Quran Virtual II, santri PP. Nurul Ulum Malang - PPS. Shirotul Fuqoha'

Fitrotul Maulidina

Alumnus Bayt Al-Quran Virtual II, santri PP. Nurul Ulum Malang - PPS. Shirotul Fuqoha'