Belajar Menulis dari A.S. Laksana

Saya mengawali tulisan ini dengan bercerita tentang kronologi yang melatarbelakangi saya menulis. Entah seberapa penting cerita itu, yang jelas, saya hanya ingin menceritakannya. Menegaskan bahwa setiap sesuatu pasti ada proses awalnya. Begini ceritanya:


Pada tahun 2017, saya berkesempatan ikut progam studi selama enam bulan di Pesantren Pasca Tahfidh Bayt Al-Qur’an Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) Jakarta. Dalam kesempatan itulah, meskipun jenjang waktu pendidikannya tidak terlalu lama, namun pelajaran dan pengalamannya sangat terasa dan mengesankan. Pengajarannya melekat.

Ketika itu, saya yang dasarannya tidak suka membaca dan hampir tidak pernah menulis, tetapi karena lingkungan akademis yang terbangun sangat kuat budaya literasinya, dengan senang hati saya juga mulai terbiasa. Yang awalnya, boleh jadi membaca hanya sekadar untuk menyiapkan materi kultum, menulis untuk menyusun makalah, namun seterusnya menjadi kebiasaan.

Selain itu, memang kami sering mendapatkan motifasi dari para dosen yang mengajar di sana. Melihat bagaimana semua dosen yang mengajar, meskipun tidak dikenal sebagai penulis, namun mempunyai banyak karya tulis. Lebih-lebih kami mendapatkan asupan rohani untuk meningkatkan budaya literasi ini, untuk terus senantiasa belajar membaca dan menulis. Misalnya panutan kami, Prof. M. Quraish Shihab, saya mendengarkan nasihat beliau dari kakak tingkat begini, “Teruslah menulis. Baik tidaknya tulisan biarkan pembaca yang menilai.”

Saya juga sering mendapatkan cerita dari Dr. Syarif, bahwa orang-orang terdahulu yang sekarang masih dikenal sebab mereka menulis. Beliau juga menceritakan betapa dahulu itu sangat sulit sekali untuk sekadar mendapatkan alat tulis. Sampai-sampai, terkadang harus menunggu satu-dua bulan untuk mendapatkannya. Alat tulis sangat terbatas, akses internet juga belum ada. Namun demikianlah, seringkali keterbatasan bisa menjadi energi terkuat untuk menghasilkan sebuah karya.

Dan, yang masih saya ingat betul dawuh beliau lebih kurang begini, “Hiduplah sebagai penulis, atau mati sebagai manusia yang ditulis sejarahnya.” Begitupun nasihat dari guru beliau, Prof. Dr. Ali Mustafa Ya’qub, “Dan jangan sekali-kali kalian meninggal dalam keadaan belum mempunyai karya.

Hubungannya dengan A.S. Laksana, adalah bermula dari sahabat seangkatan saya asal semarang, Habib Halwani. Saya dengan sengaja meminjam gawinya. Apa yang menjadi bacaannya setiap hari. Dan saya menemukan tulisan-tulisan A.S. Laksana yang saya rasa, gaya tulisan yang dipakai begitu memudahkan pembaca dan siapa saja yang mau belajar menulis. A.S. Laksana menulis dengan cara bercerita. Menjadikan pembacanya sebagai sahabat dekat. Sebagaiman sahabat, dengan sangat ringan kita bisa berbagi kisah, atau apapun saja dengan tanpa sekat. Sejak itulah, saya mulai mengagumi dan membaca karya-karyanya yang ada di Google.

Dari beliaulah, saya belajar, untuk bisa menulis, “Anda tidak harus menjadi seorang penulis. Pekerjaan menulis bukan saja hanya dilakukan oleh penulis, siapa pun anda, kata beliau, menulis itu perlu.” Sebagaimana yang beliau tulis dalam pengantar bukunya “Creative Writing.” Buku tentang tips dan strategi menulis cerpen dan novel.

Saya setuju dengan pandangan A.S. Laksana yang mengatakan menulis itu perlu. Lebih lanjut beliau mengatakan, “Apa pun bakat anda, minat anda, apa pun pekerjaan anda, anda memerlukan pikiran yang mampu menyampaikan apa yang ingin anda sampaikan: secara jernih, tertata, dan kokoh. Anda perlu menulis. Menulis, saya kira, adalah sebuah upaya untuk melatih kita berpikir lebih baik dan dengan demikian ia juga merupakan latihan terus-menerus untuk memelihara akal sehat.

Dan menulis tidaklah gampang jika kita hanya satu dua kali mencoba dan kemudian mengharapkan datangnya mukjizat, tetapi ia pun tidak sulit jika dijalani secara betul. Ia tak beda dengan jenis-jenis keterampilan lainnya yang mula-mula membutuhkan ketekunan kita untuk menguasai dasar-dasarnya, dan dari sana kita akan mengembangkannya menurut apa yang kita inginkan.”

+ posts