Dua Bekal Keberhasilan

Dua Bekal Keberhasilan

Oleh: Aufal Marom WF

“Setiap manusia memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai keberhasilan. Tinggal manusianya mau atau tidak mencapainya.”

Adakah manusia yang tidak sempurna.? Manusia itu makhluk yang paling sempurna dalam penciptaanya. Tidak ada makhluk selain manusia yang mempunyai kesempurnaan melebihinya. Banyak sekali anugerah yang diberikan oleh Allah swt. kepada manusia yang dijadikannya sebagai khalifah di bumi itu. Sudah pasti, ketika Allah swt. memilih manusia sebagai khalifatullah fi al-ard, tidak asal memilih. Tentunya Allah swt. mempunyai maksud yang bisa diambil hikmahnya dan dapat kita renungkan bersama.

Bersamaan dengan terpilihnya manusia sebagai khalifatullah fi al-ard, Allah swt. juga membekali manusia dengan potensi yang luar biasa. Potensi, yang menjadi pembeda antara manusia dengan selainya. Anugerah yang sangat besar itu adalah akal. Manusia menjadi mulia karena akalnya. Bisa dibayangkan, jika manusia tidak dianugerahi akal, apa bedanya dengan makhluk-makhluk yang lain, binatang, misalnya.?

Memang manusia diciptakan dengan sebaik-baik ciptaan. Sebagaimana dalam QS. At-Tin: 4 dijelaskan, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Kesempurnaan ini bukan saja hanya kesempurnaan psikis, seperti karunia akal perasaan. Namun, manusia juga mempunyai kesempurnaan fisik, hanya manusia yang bisa berdiri tegak kemudian melangkah untuk bekerja. Tangannya yang bebas bergerak untuk berkarya, hingga mampu membuat kehidupan lebih bermakna.

Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa manusia sarat akan kekurangan, keterbatasan dan kelemahan. Terkadang, Keterbatasan yang ada, seringkali menjadikan manusia tidak menemukan potensi yang dimilikinya itu. Kekurangan dan keterbatasan menutupi dirinya untuk mencapai keberhasilan. Sehingga, menjadikannya berputus asa, mudah mengeluh, serta tidak mempunyai cita-cita, harapan yang ingin diwujudkannya.

Keterbatasan yang ada, baik fisik maupun psikis, inilah yang menjadi penghambat untuk mencapai keberhasilan. Ketika ia hanya fokus pada keterbatasan itu, ia tidak akan berani mencoba hal-hal yang dapat mengantarkannya pada pucak keberhasilan. Ia takut gagal sebelum mencoba karena melihat keterbatasan, bukan potensi yang dimilikinya.

Lantas, apakah kemudian kita harus meratapi keterbatasan? Yang itu merupakan hal yang wajar pada setiap manusia? Seharusnya, dengan keterbatasan itu, ia menjadikannya sebagai energi positif yang mempu mendobrak semangatnya untuk sungguh-sungguh dalam mencapai keberhasilan.

Kemudian, apakah dengan keterbatasan dan ketidaksempurnaan itu manusia bisa berhasil.? Ini pertanyaan yang mempunyai dua jawaban. Pertama, tidak. Menjadi tidak berhasil ketika, sebagaimana yang dijelaskan di atas, menjadikan keterbatasan dan ketidaksempurnaan sebagai kekurangan yang harus disesali. Padalah, sekali lagi, kekurangan itu sebenarnya tidak ada, tinggal bagaimana kita berfikir bahwa Allah swt. telah menganugerahkan kesempurnaan dan potensi yang sangat mengagumkan kepada seluruh manusis. Kedua, pasti berhasil. Mengapa bisa pasti? Sebab manusia yang menyadari keterbatasan itu sebagai energi terkuatnya, ia akan tetap semangat dan tidak mudah mengeluh, sehingga selalu berupaya untuk merealisasikan keberhasilan yang ingin dicapai.

Dengan bekal apa seseorang bisa mencapai keberhasilan.? Ada dua bekal yang dengan kedaunya ini, seseorang akan berhasil. Apakah itu.? Kemauan yang kuat dan kesungguhan yang hebat. Ketika seseorang sudah mempunyai kemauan yang kuat untuk mewujudkan cita-citanya, ia akan terus berjuang dan tidak takut gagal sebelum melangkah. Kemauan yang kuat akan diikuti dengan kesungguhan yang hebat. Kesungguhan dalam menjalani proses, tahapan-tahapan yang harus dilaluinya. Dengan bekal keduanya ini, seseorang akan dihantarkan kepada keberhasilan yang gemilang.

Sebagai contoh, seseorang yang mempunyai keterbatasan, kekurangan, namun tidak menjadikannya alasan untuk tidak sungguh-sungguh dalam mencapai keberhasilannya, adalah Muhammad Naja Hudia Afifurrahman. Seorang anak berusia sembilan tahun yang berasal dari Mataram. Seorang anak kecil yang divonis dokter sebagai penderita kelumpuhan otak, karena kemauan yang kuat dan kesungguh yang hebat, ia mampu menutaskan hafalanya seluruh ayat Al-Qur’an dengan lancar dan teliti.

 

Sungguh mengagumkan, meskipun Naja tidak dapat menggerakkan tubuhnya karena ada gangguan di saraf motoriknya, kondisi dan penyakitnya itu tidak menghalangi untuk berprestasi. Menjadi seseorang yang berhasil menggapai cita-cita mulianya, menjadi seorang penghafal Alquran. Meskipun, tentunya tidak mudah bagi seorang Naja untuk menghafalkan Alquran. Bagaimana orangtuanya dengan kesibukanya harus membacakan ataupun memperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an kepada Naja yang masih menyandang buta aksara untuk dihafalkan. Namun demikian, , kemauan yang kuat dan kesungguhan yang hebatlah yang menjadi pengantar Naja mampu menghafalkan seluruh ayat-ayat Al-Qur’an dalam waktu yang sangat singkat, lebih kurang sepuluh bulan.

Dari sedikit kisah di atas, bisa diambil pelajaran bahwa, yang benar-benar dalam keterbatasan pun, sesungguhnya ketika masih memiliki dua bekal itu, kemauan yang kuat dan kesungguhan yang hebat, pasti akan menemukan jalan kemudahan sehingga sampai pada puncak keberhasilan. Lantas bagaiamana dengan kita yang lebih sempurna.? Masih takut gagal.? Mencoba saja dulu.“Kalian pasti bisa ketika mempunyai kemauan dan bersungguh-sungguh.[]