Hijrah

Kata Hijrah dalam al-Quran seringkali disandingkan dengan Jihad dan Iman. Ini menunjukkan bahwa hijrah dan sikap perlawanan (jihad) terhadap berbagai bentuk kezaliman dan kemaksiatan adalah buah dari keimanan yang tulus dan sejati. Dengan demikian kita bisa melakukan hijrah dengan pengertian yang hakiki jika memiliki keimanan yang tulus.

Seorang Muslim sejati tentu tidak akan tinggal diam menyaksikan berbagai kezaliman dan penindasan, terutama yang menimpa kaum lemah. Oleh karenanya, saat Hijrah diikuti dengan Jihad, ini menunjukkan bahwa Hijrah sangat memerlukan perjuangan dan pegorbanan.

Jika kita menilik sejarah dan al-Quran, Hijrah merupakan sunnatullah, menjadi sesuatu hal yang biasa dilakukan oleh para Nabi, khususnya dalam misi dakwahnya. Sekian contoh disebut oleh al-Quran. Seperti misalnya Nabi Ibrahim yang berhijrah dari tanah kelahirannya, Babilonia, menuju ke beberapa tempat di Syam, Mesir, dan Makkah. Saat beliau tak lagi mampu menghadapi ayahnya yang terlibat dalam melestarikan kemusyrikan, serta tidak berdaya menghadapi Namrud -penguasa tiran yang pernah berupaya membakarnya-, Nabi Ibrahim berkata:

وَقَالَ اِنِّيْ ذَاهِبٌ اِلٰى رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ

Aku pergi menuju Tuhanku, karna Dia yang akan memberikan petunjuk padaku.

Dalam ayat lain:

وَقَالَ اِنِّيْ مُهَاجِرٌ اِلٰى رَبِّيْ ۗ

Sesungguhnya aku berhijrah menuju Tuhanku

Dua ayat di atas dipahami bahwa maksud Nabi Ibrahim menuju Tuhan adalah berhijrah menuju tempat yang telah diperintahkan oleh Tuhannya.
Dalam sejarah kehidupan Rasulullah saw. setelah melakukan dakwah secara terbuka dan Islam semakin meluas, para pemuka Kafir Makkah pun murka. Mereka mulai bergerak megintimidasi Nabi, sampai-sampai Rasul memperkenankan para sahabtnya hijrah ke Habasyah . Inilah hijrah fisik pertama kali, meski Rasul tak ikut serta dalam rombongan tersebut.
Dalam perkembangannya, bahkan Rasul dan para sahabatnya pun meninggalkan Makkah, kota yang sangat dicintainya. Sesaat sebelum bertolak menuju Madinah, Rasul sempat berkata sembari menghadap kota Makkah

Innaka la ahabb al-bilād. Engkau adalah tempat yang paling aku cintai. Seandainya penduduknya tak mengusirku niscaya aku takkan meninggalkanmu.

Ini semua terpaksa dilakukan sebab tak lagi berdaya menghadapi kerasnya penindasan dan penyiksaan kaum Kafir Makkah. Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa hijrah berpindah dari satu tempat ke tempat lain adalah suatu realitas yang obyektif. Memulai hidup baru di pengasingan untuk mempertahankan hidup dan keyakinan yang dianutnya.

Nabi Musa pun melakukan hal yang sama, hijrah bersama Bani Israil melarikan diri dari keotoriteran dan kebengisan Firaun. Begitu pula Ashabul Kahfi yang mengasingkan diri ke sebuah goa, akibat belenggu yang tidak membebaskan untuk beragama. Dari peristiwa di atas, Hijrah dapat kita maknai sebagai bentuk pembebasan diri, sekaligus pertanda bahwa manusia tak bisa menerima segala bentuk kesewenang-wenangan.

Satu hal penting, esensi hijrah adalah menuju kehidupan ke arah yang lebih baik. Bisa dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, ataupun dari satu keadaan ke keadaan yang lain. Hijrah dengan pengertian ini, kita bisa melakukannya kapan dan di mana saja. Objeknya bisa berupa tempat atau keadaan. Bisa kita lakukan secara fisik, mental, maupun spritual.

Hijrah secara fisik, Rasul sudah melakukannya dengan membentuk komunitas masyarakat baru yang lebih baik berupa Madinah. Kita bisa menganggapnya itu telah selesai. Sementara yang tersisa saat ini adalah hijrah mental dan spiritual.

Ada ungkapan indah dan menarik dari Thariq Ramadhan, seorang cendekiawan Muslim terkemuka di Eropa, bahwa hijrah secara mental-spiritual itu dengan cara mengasingkan dhamir dan hati kita dari tuhan-tuhan palsu dalam kehidupan sekeliling kita, bisa berupa kekuasaan, harta, popularitas, dan kemewahan. Itulah tuhan-tuhan palsu tetapi nyata. Hijrah bisa bermakna mengasingkan dhamir dan hati dari itu semua dan berbagai kejahatan. Kita berpaling dari berhala-berhala manusia seperti kemilau dunia dan kepalsuan kehidupan dunia yang amoral, membebaskan diri dari kebiasaan buruk. Ini semua bisa kita upayakan dan lakukan, terpenting adalah hijrah secara mental dan spitual ke arah yang lebih baik.

Dalam riwayat, kita bisa temukan Rasul berpesan bahwa hijrah sejati adalah ketika seseorang meninggalkan kemaksiatan dan kebiasaan buruk, serta apa saja yang dilarang Allah. Inilah yang mendesak dan harus kita lakukan sesegera mungkin, hijrah mental dan siritual sedalam dan seluas mungkin.

Saat hati sudah tertambat dengan jangkar yang jauh menghunjam ke sanubari paling dalam, bisa kita umpamakan seperti perairan di samudra luas nan dalam. Semakin dalam lautan dan samudra, maka air di dasar semakin terlihat tenang. Karena begitu dalamnya, air yang tenang itu niscaya takkan terpengaruh dengan gulungan ombak yang bergejolak di permukaan, bahkan ombak tinggi nan dahsyat sekalipun. Maka, ketika keimanan menyentuh hingga bagian lubuk hati terdalam, sebesar apapun goncangan dan terpaan musibah di permukaan hidup, tentu tak akan menggoyahkan hati. Ia akan tetap tenang dan bahagia menghadapi itu semua.

Sekali lagi, hijrah yang mendesak untuk kita lakukan adalah hijrah mental dan spiritual. Sisi spiritual inilah yang kita harapkan dapat mengembalikan diri kita ke dalam jati diri kita sebenarnya, yang mampu membebaskan diri dari berbagai bentuk kepalsuan dan tipu daya yang ada dalam diri dan yang ada dalam kehidupan.

Mudah-mudahan di tahun baru ini kita bisa melakukan perubahan yang lebih baik. Jika ingin berubah, maka jangan jauh-jauh dari al-Quran. Sebab al-Quran adalah kitab perubahan. Dikatakan, bahwa al-Quran adalah kitab yang li tukhrija al-nās min al-żulumāt ila al-nūr, mengentaskan manusia dari berbagai bentuk kegelapan menuju keadaan yang terang benderang, dan perubahan tak dapat dicapai melainkan dimulai dari dalam diri sendiri.
wAllahu a’lam

1 Muharram 1443 H

(ED/Yakhsyallah)

 

Muchlis M. Hanafi
Direktur di PSQ | + posts