Makna Keberkahan Rizki

Dalam setiap doa sebelum makan kita selalu mengucapkan kalimat اللهم بارك لنا فيما رزقتنا وقنا عذاب النار, “Ya Allah berikanlah keberkahan kepada kami dalam setiap rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami dan peliharalah kami dari azab neraka”. Di antara kita bahkan ada yang bertanya, apa hubungan antara makan dengan neraka? Tentu saja terdapat hubungan erat antara keduanya. Sebab dalam hadis dinyatakan bahwa: “كل لحم تبت من حرام فالنار أولي به”, “Setiap daging (manusia) yang tumbuh dari makanan haram maka nerakalah yang lebih berhak menyantapnya”. Agar kita terhindar dari neraka, agar menjaga diri dari hal-hal yang syubhat apalagi haram.

Berkah berasal dari Bahasa Arab Barkatan yang berarti nikmat. Istilah lainnya dalam bahasa Arab adalah mubarak dan tabaruk. Berkah atau barokah dalam Al-Quran dan sunah adalah langgengnya kebaikan. Berkah juga berarti bertambahnya kebaikan atau ziyadatul khoir. Menurut Imam Nawawi, asal makna berkah atau barokah ialah kebaikan yang banyak dan abadi. Para ulama pun menjelaskan bahwa makna berkah mencakup segala sesuatu yang banyak dan melimpah, baik terkait material maupun non material seperti keamanan, ketenangan, kesehatan, harta, dan sebagainya.

Berkah dalam rizki, tidak selalu berarti rizki yang banyak dan melimpah, melainkan rizki yang bisa membuat pemiliknya merasa aman, tenteram, damai dan sejahtera. Bila seseorang diberi anugerah rizki melimpah, badan sehat, anak sukses dalam menempuh pendidikan dan karir, maka ia wajib bersyukur, tetapi jika seseorang mengalami hal sebaliknya, maka ia wajib bersabar. Inilah dua sifat mulia yang diberi apresiasi oleh Nabi ketika diterima oleh seorang mukmin.Terkait hal ini Nabi SAW bersabda:

عجباً لأمر المؤمن، إن أمره كله له خير، وليس ذلك لأحد إلا للمؤمن، إن أصابته سراء شكر فكان خيراً له، وإن أصابته ضراء صبر فكان خيراً له، رواه مسلم

“Saya kagum pada sikap seorang mukmin, karena apapun yang terjadi padanya selalu baik, hal ini tidak bisa dialami oleh selain orang mukmin, jika mendapat nikmat ia bersyukur, karena syukur atas nikmat itu adalah yang terbaik, dan jika mendapat musibah, ia akan bersabar, karena sabar atas musibah itu sebagai sikap terbaik”. (HR. Muslim)

Ada kalanya seseorang diberi anugerah rizki melimpah, tetapi ada juga yang jatah rizkinya pas-pasan. Hal ini sebagai sunnatullah, terdapat ayat yang menegaskan bahwa Allah melebihkan rizki sebagian atas sebagian yang lain:

وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ ۚ فَمَا الَّذِينَ فُضِّلُوا بِرَادِّي رِزْقِهِمْ عَلى مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَهُمْ فِيهِ سَوَاءٌ ۚ أَفَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ 

“Dan Allah melebihkan sebagian kamu atas sebagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezekinya kepada para hamba sahaya yang mereka miliki, sehingga mereka sama-sama (merasakan) rezeki itu Mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?” (QS an-Nahl : 71)

Dalam kaitan inilah maka Islam menetapkan rukunnya yang ketiga berupa kewajiban zakat agar bisa saling membantu.

Dengan demikian, tampaknya tidak salah jika ada yang berkata bahwa rizki tidak harus banyak yang penting berkah, dalam kalimat ini berkah bermakna nikmat dan cukup. Merasa cukup dengan yang ada pada diri kita saat ini pun merupakan tuntunan ajaran agama agar kita bisa memiliki sifat qanaah dan rida. Sebab jika kita tidak rida dan merasa cukup serta bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah limpahkan ini, maka kita justru akan menderita lahir dan batin. Maka Nabi mengajari kita untuk berdo’a agar memiliki hati yang qana’ah.

اللهم قنعني بما رزقتني وبارك لي فيه واخلف عليَّ كل غائبة لي بخير .اللهم ألهمني رشدي وأعذني من شر نفسي

Ya Allah jadikanlah hati kami hati yang qana’ah dengan segala rizki yang Engkau anugerahkan kepada kami, berikanlah keberkahan kepada kami, berikan ganti kebaikan atas segala kegagalan yang kami alami. Ya Allah anugerahkanlah kepada kami hidayah dan selamatkanlah kami dari segala keburukan nafsu kami.

Kita wajib memiliki hati qana’ah dan sabar atas musibah, tetapi juga tetap optimis dan dinamis. Panduan ilahi menyatakan bahwa terkait urusan dunia, lihatlah ke bawah sedangkan terkait urusan akhirat lihat ke atas. Hal ini tidak boleh terbalik dan salah terap. Sebab akibatnya pasti akan kufur atas nikmat dan tidak bisa bersyukur. Mari kita berlatih menata diri untuk berlomba memperolah anugerah rizki yang penuh berkah, bersabar, bersyukur dan rida atas segala ketentuan ilahi serta terus bersabar. Renungi hadis qudsi berikut:

 مَنْ لَمْ يَصْبِرْ عَلَى بَلائِي , وَلَمْ يَرْضَ بِقَضَائِي , وَلَمْ يَشْكُرْ نَعْمَائِي , فَلْيَتَّخِذْ رَبًّا سِوَايَ

“Siapapun yang tidak sanggup sabar atas musibah yang aku timpakan, tidak rida dengan ketetapanku, tidak bersyukur atas nikmat-nikmatku, maka silahkan cari Tuhan selainku.”

Semoga kita bisa merenung dan mengambil nasihat mulia ini. Amin Ya Mujibas sa ilin.

M. Nurul Irfan
Dewan Pakar di PSQ | + posts

Doktor dalam bidang hukum pidana Islam yang menuntaskan seluruh pendidikan kesarjanaanya mulai dari S1, S2, hingga S3 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Merupakan bagian dari Dewan Pakar PSQ yang juga menjadi Wakil Dekan II di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta.

M. Nurul Irfan

Doktor dalam bidang hukum pidana Islam yang menuntaskan seluruh pendidikan kesarjanaanya mulai dari S1, S2, hingga S3 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Merupakan bagian dari Dewan Pakar PSQ yang juga menjadi Wakil Dekan II di Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta.