Sang Mujahid Bintang Sembilan yang Istiqomah

Kondisi masyarakat Desa Batujai Kabupaten Lombok Tengah (NTB) era sebelum kemerdekaan Republik Indonesia secara umum hampir tidak jauh berbeda dengan daerah atau desa lainnya. Keterbelakangan pendidikan, kemerosotan ekonomi, kekacauan politik, dan aneka ragam kegelapan nilai-nilai agama dan kemanusiaan. Di tengah itu atau empat tahun menjelang kemerdekaan Republik Indonesia lahirlah sosok Sang Mujahid Bintang Sembilan Yang Istiqomah, yaitu Tuan Guru Abdul Hamid.

Tuan Guru Abdul Hamid lahir pada tahun 1941 di Ketangge Desa Batujai Kecamatan Praya Barat Kabupaten Lombok Tengah (NTB). Tuan Guru Abdul Hamid lahir dari pasangan Amaq Munipah dan Siti Soran. Orang tuanya merupakan keturunan dari kalangan keluarga petani biasa.

Di samping orang tuanya merupakan petani biasa, namun juga sosok religius. Salah satu rutinitas religiusnya ialah selalu menghadiri pengajian Majelis Taklim sekali seminggu ke Desa Pagutan Lombok Barat, asuhan Tuan Guru Abdul Hamid Pagutan. Terpancar rasa mahabbah yang tinggi dan littabarruk dari gurunya. Maka Amaq Munipah memberikan nama anak bungsunya Abdul Hamid.

Pada tahun 1948 di sekitar usia delapan tahun, Abdul Hamid kecil diserahkan orang tuanya ke Tuan Guru Husni untuk belajar lebih memperdalam lagi ilmu Tajwidul Qur’an. Tuan Guru Husni merupakan satu-satunya Ulama Penghafal al-Qur’an di Desa Batujai Kabupaten Lombok Tengah kala itu.

Pada tahun 1953, berkat arahan Guru Ngajinya Abdul Hamid kecil meneruskan pendidikannya nyantri ke Pondok Pesantren Darul Qur’an Bengkel Labuapi Lombok Barat asuhan Tuan Guru Haji Muhammad Sholeh Hambali (Rais Syuriah PWNU NTB 1953-1968), di mana tempat Guru Ngajinya tersebut nyantri sebelumnya.

Berbagai kitab kuning yang dipelajari ialah antara lain, mulai dari pelajaran Nahwu Sharaf; dengan kitab Matan al-Jurumiyah, Syarah Dahlan, Kawakib ad-Durriyyah dan lain-lain, Fiqih; dengan kitab Matan Taqrib, Fathul Qarib, Fathul Mu’in, dan lain-lain, Tasawuf; dengan kitab Bidayatul Hidayah, Ihya’ Ulumuddin, dan lain-lain, Tafsir; dengan Kitab Tafsir al-Baidhowi, Tafsir Jalalain, dan lain-lain, Ilmu Fara’idh (Ilmu tentang Warisan) dan aneka ragam disiplin ilmu Agama Islam lainnya.

Pada tahun 1960 setelah belajar selama tujuh tahun dengan sungguh-sungguh pada usia remajanya. Abdul Hamid pun diangkat menjadi Guru Muda di Pondok Pesantren Darul Qur’an Bengkel. Hampir setiap malam, ia isi dengan penuh pengkhidmatan keilmuan kepada para santri, dari satu kamar ke kamar santri lainnya. Kitab-kitab yang diajari ialah sebagaimana pelajaran santri, antara lain Kitab Syarah Dahlan, Fathul Qarib, Fathul Mu’in dan lain sebagainya.

Dahaga ilmu Abdul Hamid muda mulai dirasakannya. Ia mulai mencari cara untuk menemukan oase Ilmu di luar pondok. Sampailah menemukan air keberkahan Ilmu ke kawasan Lombok Tengah, yaitu di Tuan Guru Haji Lalu Muhammad Faisal Pengasuh Pondok Pesantren Manhalul Ulum Praya (Rais Syuriah PWNU NTB 1970-1995). Pertemuan belajar mengajar hanya khusus tentang Ilmu Balaghah; Badi’, Ma’ani dan Manthiq selama empat tahun sampai dengan tahun 1964.

Atas perintah Tuan Guru Haji Lalu Muhammad Faisal Praya dan izin Tuan Guru Haji Muhammad Sholeh Hambali Bengkel, Abdul Hamid muda sambil pulang pergi belajar ke Pondok Pesantren Manhalul Ulum Praya, juga membantu pendidikan Agama Islam berbasis Kitab Kuning kepada masyarakat di Desa Batujai.

Pada tahun 1966, melalui musyawarah semua elemen masyarakat dan Pemerintah Desa Batujai. Disepakatilah pendirian Madrasah. Nama Madrasah disematkan oleh Guru Beliau, yaitu Tuan Guru Haji Lalu Muhammad Faisal Praya dengan nama Fajrul Hidayah (Terbitnya Petunjuk) sekaligus sebagai peletak dasar batu pertamanya.

Dari sinilah, totalitas kifrah Abdul Hamid muda dalam pengembangan Islam Ahlussunnah Waljama’ah An-Nahdliyah melalui Madrasah Fajrul Hidayah termulai. Kemudian seiring dengan perkembangan kebijakan nasional, jenjang pendidikan formal mulai dibuka; Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah. Dan Abdul Hamid muda kian akrab disebut Ustadz Hamid.

Pada tahun 1969, Ustadz Hamid mengakhiri perjalanan masa mudanya dan menikahi gadis bernama Mahnap. Setelah menikah semangatnya kian meningkat dalam mengembangkan ajaran Islam Ahlussunnah Waljama’ah An-Nahdliyah. Di samping mengisi jadwal pelajaran formal Fajrul Hidayah. Beberapa Majelis Taklim secara rutin dibuka atas permintaan masyarakat dan langsung diisinya, yaitu antara lain Majelis Taklim Fajrul Hidayah, Majelis Taklim Masjid At-Taqwa Batubeduk, Majelis Taklim Miftahul Jannah Waki, Majelis Taklim Masjid Nurul Huda Mengilok, Majelis Taklim Masjid Ta’limusshibyan Lolat, Majelis Taklim Masjid Gabak, Majelis Taklim Masjid Petak, Majelis Taklim Masjid Bunkolotok, Majelis Taklim Masjid Sinte, Majelis Taklim Biras Kesawur, Majelis Taklim Bat Eat Desa Mangkung, dan lain sebagainya di wilayah Kabupaten Lombok Tengah. Tidak terhitung pengajian yang sifatnya irregular dan insidentil. Namun beliau tetap menjalaninya dengan penuh pengkhidmatan.
Pada tahun 2000 Ustadz Hamid berangkat menunaikan Ibadah Haji. Sepulangnya dari Tanah Suci diberikanlah gelar kehormatan di bidang Agama sebagai Tuan Guru oleh masyarakat. Maka sehari-hari seterusnya beliau disebut sebagai Tuan Guru Abdul Hamid.

Keistiqomahan beliau dalam berpegang teguh dan memperjuangkan ajaran Islam Ahlussunnah Waljama’ah An-Nahdliyah tidak pernah surut sedikit pun. Pernah suatu ketika di beberapa masjid Desa Batujai tersebar beberapa lembaran Buletin kajian milik salah satu kelompok yang mengharamkan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kemudian setelah dilakukan penelitian ternyata salah satu Tim Redaksi ialah merupakan salah satu warga Desa Batujai sendiri. Lalu beliau dengan bijak dan santun mempersilahkan yang bersangkutan agar dapat hadir dalam sebuah Majelis untuk Diskusi Ilmiah tentang hal tersebut dan dapat disaksikan oleh masyarakat. Namun sayang, ajakan beliau tersebut tidak dihadiri oleh yang bersangkutan.

Pada Hari Kamis 10 Pebruari 2011 Masehi bertepatan dengan 7 Rabi’ul Awwal 1432 Hijriyah Tuan Guru Abdul Hamid berpulang ke hadhirat Allah SWT penguasa Alam Semesta dan dimakamkan di wilayah sekitar Pondok Pesantren Fajrul Hidayah.

Demikianlah beliau Tuan Guru Abdul Hamid, sosok seorang Mujahid Bintang Sembilan yang istiqomah dalam berpegang teguh dan memperjuangkan Islam Ahlussunnah Waljama’ah An-Nahdliyah, serta dapat memberikan keteladanan bagi generasi penerus para murid dan masyarakat.

“ Begitulah Allah SWT Memberikan Ilmu Kepada Siapa Yang Dia Dikehendaki “

Pengajar di Fajrul Hidayah NU Batujai

Alumnus Pascatahfidz Bayt Al-Quran angkatan-11 asal Lombok Tengah NTB.

Ahmad Pahrurrozi

Alumnus Pascatahfidz Bayt Al-Quran angkatan-11 asal Lombok Tengah NTB.