Sederhana dalam Beragama

Dalam Riyadlus-Shalihin, Imam Nawawi membuat sebuah judul bab, al-iqtishâd fit-thâ’ah (sederhana dalam ketaatan). Sepintas, judul ini tampak biasa saja. Namun ia sangat dalam pesannya. Ketaatan kepada Allah yang merupakan hal inti dalam beragama, ternyata juga perlu sederhana saja. Tidak boleh berlebihan. Padahal, menurut logika pendek kita, semakin taat, maka kita semakin bagus. Ungkapan itu memang betul, namun “semakin taat” yang bagus itu adalah yang dilakukan secara bertahap secara penuh kelapangan dan kemudahan, bukan dengan keterpaksaan yang menyulitkan diri. Ia tidak dilakukan sekaligus, namun sedikit demi sedikit, tapi terus meningkat. Itulah makna sederhana. Tidak berlebihan, namun juga tidak kurang.


Allah berfirman, dalam Qs. Thaha: 1-2, “Thaahaa. Kami tidak menurunkan al-Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah.” Dalam Qs. al-Muzzammil: 20, Allah juga berfirman, “Bacalah bagian al-Quran yang menurutmu mudah.” Lebih tegas lagi, dalam Qs. al-Baqarah: 185, Allah berfirman, “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” Kemudian, Allah menegaskan kembali tentang prinsip ajaran Islam dalam Qs. al-Hajj: 78, “dan Dia sekali-kali tidak menjadikan suatu kesempitan untuk kamu dalam agama.” Semua ayat tersebut berbicara tentang kesederhanaan dalam beribadah, kesederhanaan dalam ketaatan, dan mengekspresikan keberagamaan secara biasa-biasa saja. Itulah yang dikehendaki oleh Allah, meskipun boleh jadi manusia beragama ingin sekali memberikan secara lebih dan terbaik untuk menjadi pribadi yang taat dan dekat kepada Allah.

Sederhana dalam beragama dapat kita terapkan dalam dua bentuk sekaligus. Pertama, sederhana dalam pelaksanaannya, yaitu sebagaimana judul bab yang disusun oleh Imam Nawawi dalam Riyâdlus-Shâlihîn tersebut. Kedua, sederhana dalam menyampaikan dan mendakwahkan ajaran agama kepada orang lain. Kesederhanaan dalam bentuk pertama diistilahkan dengan al-iqtishâd, sedangkan kesederhanaan dalam bentuk kedua diisitilahkan dengan al-I’tidâl atau al-‘adl. Keduanya memiliki titik temu makna, yaitu tengah; serta tidak berlebihan dan tidak kekurangan.

Sederhana dalam ketaatan dan ibadah jelas sekali tampak dalam sebuah kisah sahabat yang ingin menjalankan agama dengan paradigma kuantitatif. Menurutnya, kualitas itu tergantung kuantitas. Semakin banyak dan lama ibadah yang dilakukannya, maka semakin berkualitas. Namun, justru anggapan itu diluruskan dan dikoreksi oleh Nabi.

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا اِمْرَأَةٌ، قَالَ: «مَنْ هَذِهِ؟» قَالَتْ: هَذِهِ فُلَانَةٌ تَذْكُرُ مِنْ صَلَاتِهَا. قَالَ: «مَهْ، عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيْقُوْنَ، فَوَاللهِ لَا يَمَلُّ اللهُ حَتَّى تَمَلُّوْا» وَكَانَ أَحَبُّ الدِّيْنِ إِلَيْهِ مَا دَاوَمَ صَاحِبُهُ عَلَيْهِ. (متفق عليه)

Dari Aisyah r.a. bahwa Nabi Muhammad s.a.w. pernah menjumpai ada seorang tamu perempuan di kediaman Aisyah. Setelah mendengar obrolan Aisyah dengan tamunya, Nabi pun penasaran. “Siapakah gerangan perempuan ini?” Tanya Nabi. “Oh, dia adalah Si A yang salatnya sangat luar biasa banyak.” Jawab Aisyah. Namun, ternyata Nabi tidak suka dengan cara beribadah seperti itu. “Jangan begitu! Kalian harus beribadah semampu kalian saja. Allah tidak “bosan” (berhenti memberi rahmat) sampai kalian sendiri yang bosan (memohon rahmat dengan beribadah).” Tegas Nabi. “Cara beragama yang paling Allah sukai adalah yang dilakukan secara kontinu, rutin, istikamah [meskipun hanya sedikit].” Pungkas beliau. (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dalam kesempatan yang lain, Rasulullah juga menegur beberapa tamu yang berkunjung ke kediaman beliau sekedar untuk mengetahui bagaimana cara beliau beribadah sehari-harinya. Setelah mendapatkan informasi tentang bagaimana Nabi beribadah, mereka pun satu persatu membuat sebuah resolusi. Ada yang bertekad untuk menghabiskan hari-harinya hanya dengan salat saja. Ada yang bertekad menghabiskan siangnya hanya untuk puasa setiap hari sepanjang tahun. Ada yang bertekad untuk membujang selamanya agar bisa fokus medekatkan diri kepada Allah. Mendengar resolusi mereka itu, Rasulullah justru tidak berkenan dan langsung menegur mereka. “Apakah kalian yang tadi membuat resolusi seperi ini dan itu? Ketahuilah, Aku ini orang yang paling dekat dengan Allah dan paling bertakwa. Tapi, caraku beribadah tidak seperti yang kalian tekadkan itu. Aku memang tekun berpuasa, tapi juga sering berbuka; aku memang tekun shalat, tapi aku juga tak lupa tidur; dan aku juga menikah. (Demikianlah caraku beribadah!) Siapa yang tidak suka dengan caraku itu, maka bukan termasuk golonganku.” Tegas beliau. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Tidak tanggung-tanggung, Rasulullah s.a.w. juga memastikan bahwa orang yang berlebihan atau semangatnya keterlaluan dalam beribadah itu juga tidak bagus. Ia pasti akan gagal. Ia justru akan celaka. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud, Rasulullah bersabda, “Halakal-mutanatthi’ûn” (Orang yang keterlaluan, terlalu memaksakan diri dalam beribadah, akan celaka sendiri.) Beliau mengulanginya hingga tiga kali. (HR. Muslim). Dalam kenangan Abu Hurairah pun demikian, Rasulullah menegaskan bahwa agama ini mudah (innad-dîna yusrun). Orang yang mempersulit diri dalam beragama, pasti akan kalah dengan sendirinya. Sederhana sajalah dalam beribadah, asalkan tepat! (saddidû wa qâribû).” (HR. al-Bukhari). Dalam kenangan para sahabatnya, Rasulullah juga selalu sederhana dalam beribadah, tidak berlebihan (inna shalâtahu qashdun wa khutbatuhû qashdun).

Dalam bentuk kedua, kesederhanaan juga harus terdapat dalam hal cara penyampaiannya. Ini berlaku baik bagi para pelaku dakwah maupun bagi sasaran atau penerima dakwah, juga bagi para pelaku amar makruf-nahi munkar. Dalam menyampaikan ajaran agama, seseorang tidak boleh terlalu keras, namun juga tidak boleh bebas, juga harus senantiasa didasarkan kepada ilmu. Itulah dai-dai yang adil, sebagaimana ditegaskan sendiri oleh Baginda Rasulullah saw.

يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ يَنْفُونَ عَنْهُ تَحْرِيفَ الْغَالِينَ، وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ، وَتَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ.

Ilmu (agama) ini akan selalu dibawa oleh orang-orang ‘adil (moderat dan objektif) dalam setiap generasi. Mereka itu berkomitmen tinggi dalam menumpas penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang ekstrim (berlebihan dalam beragama); pemalsuan yang dilakukan oleh orang-orang batil (bebas dalam beragama); dan karangan fiktif yang dibuat oleh orang yang tak berilmu. (HR. Ibnu Abdil Barr. Beliau dan Imam Ahmad menilai hadis ini sahih).

Hadis ini menginformasikan bahwa agama ini akan lestari selama dibawa oleh dai-dai yang sederhana, yaitu dai-dai yang moderat dan objektif. Mereka itu tidak terlalu memihak ke kanan, ke kiri, dan juga tidak sembarangan dalam menyampaikan ajaran agama. Pada saat yang sama, hadis ini juga memberi isyarat bahwa akan ada empat jenis dai yang menyampaikan ajaran agama di setiap generasi. Pertama adalah dai yang berkualitas, yaitu dai yang adil (sederhana/muqtashid dan objektif/munshif). Inilah yang dipuji dan direkomendasikan oleh Rasulullah. Kedua adalah dai yang ekstrim (ghâllîn/ghulât). Ketiga adalah dai yang liberal (mubthilîn, menafikan tuntutan-tuntutan agama). Terakhir adalah dai-dai yang ngawur karena tidak berilmu (jahilin). Selain yang pertama, ia tidak direkomendasikan dan tidak dipuji oleh Rasulullah.

Sebagai pelaku dakwah, kita harus selalu belajar menjadi dai yang adil. Sederhana saja dalam berdakwah, tidak perlu terlalu menggebu-gebu, seolah-olah ingin saat itu juga seluruh manusia menjadi baik. Terlalu lantang dalam meneriakkan ajaran agama saat berceramah juga tidak bagus. Begitupun sebaliknya, pendakwah tidak boleh terlalu lembek, ataupun malas menyampaikan ajaran agama. Sebagai sasaran dakwah atau penerima materi dakwah, kita pun harus pandai memilah dan memilih dai. Fanzhurû ‘amman ta’khudzûna dînakum. Lihat dan telitilah terlebih dahulu dari siapa Anda belajar agama! Demikianlah pesan tegas yang disampaikan oleh para tabi’in pada saat pendakwah sudah mulai bermacam-macam cara penyampaian dan karakternya. Penerima dakwah juga tidak boleh terlalu fanatik terhadap seorang dai. Itulah keadilan dan kesederhanaan dalam dakwah.

Berdakwah secara sederhana akan membuat agama ini lestari dan berkembang. Terlalu keras dan terlalu bersemangat hanya akan menimbulkan kekeliruan dan penyimpangan. Sebaliknya, terlalu bebas tidak mau memperhatkan ayat-ayat al-Quran dan pedoman Rasulullah juga akan menimbulkan pemikiran-pemikiran palsu yang tidak berdasar (intihal). Dan terakhir, berdakwah tanpa ilmu hanya akan menghasilkan karangan-karangan fiktif yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Fattaqullâh fî dinikum wa diyânâtikum.

Kepala Madaris di Darussunnah Sittu Sanawat Ciputat. | + posts

Bergelar doktor dalam bidang hadits dan tradisi kenabian yang menyelesaikan jenjang S1, S2 dan S3 nya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pernah nyantri dan menimba Ilmu Agama di Ponpes Darussalam Ngrembeng Jombang, dan mendapatkan keilmuan Hadits secara langsung dari pakar Hadist Indonesia (Alm) KH. Ali Mustofa Ya’qub, MA.

Ahmad Ubaidi Hasbillah

Bergelar doktor dalam bidang hadits dan tradisi kenabian yang menyelesaikan jenjang S1, S2 dan S3 nya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pernah nyantri dan menimba Ilmu Agama di Ponpes Darussalam Ngrembeng Jombang, dan mendapatkan keilmuan Hadits secara langsung dari pakar Hadist Indonesia (Alm) KH. Ali Mustofa Ya’qub, MA.