Nalar Al-Quran tentang Perdamaian

Setidaknya ada tiga ayat dalam Al-Qur’an yang bicara soal perdamaian. Pertama, surah An-Nisa 128. Kedua, surah Al-Hujurat 9-10. Ketiga, surah Al-Baqarah 224. Surah An-Nisa 128 bicara soal perdamaian antar sesama anggota keluarga, terutama terkait suami dan istri, yang menjadi inti dari suatu keluarga. Di ayat ini dibicarakan terkait konflik yang terjadi dalam keluarga harus segera dicarikan titik damainya. Konflik ini bisa terjadi karena penolakan, keengganan, dan perasaan bosan pada hubungan suami-istri yang penyebabnya bisa saja alamiah atau bisa juga ada faktor lain. Al-Qur’an mendorong sekali perdamaian dilakukan dalam kondisi seperti itu dan Al-Qur’an menyebut bahwa perdamaian itu lebih baik (wash-shulhu khayr) bagi mereka yang sedang berkonflik agar rumah tangganya menjadi rukun dan harmonis lagi.

Sementara itu, surah Al-Hujurat 9-10 bicara soal perdamaian antarsesama orang beriman. Redaksi yang dipakai adalah kata mu’minun, bukan muslimun. Al-Qur’an memilih kata mu’minun karena kata ini lebih mencerminkan karakter, bukan pada identitas. Berbeda dengan kata muslimun yang lebih kental sebagai identitas daripada sebagai karakter. Kata mu’minun dipilih mungkin juga karena konflik yang terjadi dalam hal ini, bukan hanya terkait orang Islam dengan orang Islam lainnya (sesama Muslim), tapi juga terkait dengan orang Islam dengan orang non-Islam yang sama-sama punya agama. Di ayat ini, Al-Qur’an menyebut bahwa bila terjadi perselisihan antar orang beriman, maka yang harus segera dilakukan adalah didamaikan. Bahkan, bila ada pihak yang menolak untuk didamaikan, maka ia harus diperangi sampai ia mau kembali ke jalan Allah. Ada kata kunci yang menarik pada ayat ini yaitu terkait prinsip keadilan dalam mendamaikan. Ini tonggak penting yang ditancapkan oleh Al-Qur’an dalam keberhasilan proses perdamaian karena tanpa keadilan, perdamaian antar pihak yang bertikai tak akan terjadi. Prinsip lain yang juga ditanamkan oleh Al-Qur’an dalam mewujudkan perdamaian adalah prinsip ikhwah (bersaudara). Kelompok yang bertikai harus diingatkan bahwa mereka adalah bersaudara, entah itu bersaudara seagama, bersaudara senegara, atau bersaudara sesama umat manusia.

Terakhir, surah Al-Baqarah 224 bicara soal perdamaian antarsesama umat manusia. Ayat ini melarang orang bersumpah dengan menyebut nama Allah bahwa dia tidak akan berbuat kebajikan, tidak akan bertakwa, dan tidak akan mendamaikan orang-orang yang bertikai. Sumpah demikian tidak dibenarkan dalam ayat ini dan harus dibatalkan dengan membayar kafarat sumpah. Itu artinya, perdamaian antar umat manusia tanpa peduli memadang suku, ras, dan bahkan agamanya apa, itu penting terus dijaga agar harmoni dalam kehidupan ini terjadi. Perbedaan yang merupakan sunnatullah tidak boleh dijadikan pemicu konflik dan tak mau hidup damai.

Dengan kata lain, masing-masing dari tiga ayat tersebut mewakili perdamaian yang mutlak diperlukan dalam kehidupan umat manusia. Mengapa mutlak diperlukan? Karena tanpa merasakan kedamaian dalam tiga ranah ini, hidup tak akan mendapat ketenangan dan ketentraman. Dan, yang paling menarik adalah kata yang dipilih oleh Al-Qur’an adalah kata ishlah yang mempunyai makna dasar ‘perbaikan’. Maka, dalam perdamaian itu selalu ada perbaikan dan kebaikan.