Kejujuran dalam Perjalanan Kehidupan Umat Manusia

Di antara sifat-sifat seseorang dipandang memiliki derajat mulia adalah kejujuran (siddiq). Seseorang dipandang memiliki jiwa yang mulia manakala telah membudaya dalam dirinya sifat kejujuran. Kejujuran artinya adalah perilaku seseorang yag sama antara ucapan dengan apa yang tertanam dalam jiwanya. Sifat jujur merupakan sifat turunan dari Sifat Allah SWT karena Allah tidak pernah menyalahi janjiNya. Sebagaimana dalam Firman Allah:

Tuhan kami, dan datangkanlah kepada kami apa yang Engkau janjikan kepada RasulMu dan janganlah hinakan kami di hari kiamat, sesungguhnya Engkau tidak akan menyalahi janji (Q.S. Ali Imran [3]: 194).

Adapun hikmah dari sifat jujur adalah Pertama, orang jujur tidak memiliki beban mental karena sebenarnya ungkapan jujur itu selalu cenderung untuk keluar sekalipun sudah ditahan oleh orangnya.

Kedua, orang jujur akan memiliki fisik yang awet, selamat dari penyakit karena suka berbohong adalah lama kelamaan akan menggumpal pada diri seseorang dan akhirnya akan menjadi penyakit. Dalam studi ilmu kesehatan dikenal nama sebuah penyakit psikosomatis yaitu suatu penyakit yang mulanya berasal dari dalam jiwa kemudian karena tidak memperoleh jalan keluar akhirnya menggerogoti fisik dan akhirnya menjadi penyakit fisik manusia.

Ketiga, seorang yang jujur akan memiliki sahabat-sahabat setia termasuk dalam hubungan keluarga. Seringnya sebuah keluarga mengalami goncangan (broken home) akibat adanya anggota keluarga: suami, isteri, anak yang tidak teguh memelihara keyakinan. Dan sekali seorang ketahuan berbuat bohong maka akan sulit ia memperoleh kepercayaan dari orang lain.

Kejujuran adalah suatu sifat yang amat mahal harganya yang perlu dijaga dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, kita dituntut untuk selalu teguh berpegang dan berkata tentang kebenaran sekalipun pada dasarnya berkata benar itu pahit artinya akan menghadapi resiko. Akan tetapi resiko yang dihadapi akibat berkata jujur hanya sementara sampai orang lain merasakan betapa pentingnya makna kejujuran yang dipegang oleh saudaranya yang lain.

Mari kita renungkan perilaku Abu Bakar Al Siddiq yang berani menyatakan pernyataan kejujuran sesuai keyakinan hati nuraninya sekalipun orang Quraisy menuduh Rasulullah berbohong dengan perjalanan israk mikraj yang dilakukannya dalam waktu yang tidak sampai satu malam dan sudah menembus perjalanan jauh baik darat maupun angkasa luar. Secara akal biasa hal tersebut tidak mungkin dicapai manusia akan tetapi karena berdasar keyakinan kepada Allah Yang Maha Kuasa, apapun yang dikendakiNya bisa terjadi.

Oleh karena itu apabila ingin selamat, profesi apapun yang kita tekuni: bisnis, politik, guru, pegawai semuanya harus didasari oleh kejujuran. Sebagai tanda seorang yang beriman disebut jujur ketika ia menyatakan sebuah perkataan kesaksian yang disebut dua kalimah syahadat. Ucapan tersebut bukan sekedar ucapan biasa akan tetapi merupakan pembalikan dari perjalanan hidupnya yang semula sebagai orang kufur akan tetapi kemudian menjadi orang beriman.

Dapat dipahami betapa besarnya akibat yang melakukan pembohongan kesaksian dalam keimanan karena akan dicap sebagai orang murtad atau munafiq. Sebagai tanda sifat kemunafikan adalah perilaku yang tidak jujur baik dalam ucapan, janji maupun titipan kepercayaan yaitu apabila perkataannya berisi informasi dusta, selalu ingkar janji dan dan mengkhianati amanah.

Semoga kita semua selamat dari perilaku tidak jujur karena beripeilaku munafiq dan kufur karena sifat tersebut adalah merupakan pembohongan yang tertinggi yaitu membohongi Allah SWT. Amien.

 

Ridwan Lubis
+ posts