Bagaiamana Hukum Membaca Basmalah Surah Al-Fatihah dalam Salat?

Bagaiamana Hukum Membaca Basmalah Surah Al-Fatihah dalam Salat?

Nabi SAW melakukan tiga praktik yang berbeda-beda sehingga lahir tiga pendapat besar yang masing-masing ulama hanya menguatkan salah satunya. Tiga pendapat itu adalah: pertama, basmalah bukan bagian dari al-Fatihah sehingga ia tidak boleh dibaca ketika membaca al-Fatihah dalam salat, inilah mazhab Malik.

Kedua, basmalah adalah bagian dari Al-Fatihah sehingga ia harus dibaca —tidak sah salat bila tidak membacanya— serta dianjurkan membacanya dengan suara yang terdengar jelas dalam salat Zuhur, seperti Magrib, Isya, Subuh, dan salat Id, dan dikecilkan bila salat yang tidak dianjurkan mengeraskan suara, seperti Zuhur dan Asar, inilah pendapat Imam asy-Syafi’i.

Pendapat ketiga, membacanya, tetapi dengan suara yang tidak terdengar. Pendapat asy-Syafi’i yang paling banyak diamalkan oleh umat Islam di banyak negara.

Makmum yang hendak membaca basmalah boleh bermakmum kepada imam yang membaca basmalah. Demikian sebaliknya, mengikuti imam yang tidak membaca basmalah tetap sah. Bukankah Imam Masjid al-Haram dan Masjid Nabawi tidak membaca basmalah atau mengeraskan suaranya ketika membaca al-Fatihah, namun seluruh umat Islam mengikuti mereka dalam salat sebagai makmum?


Ibnu Taimiyah menulis: para sahabat Nabi dan generasi sesudahnya ada yang membaca basmalah dan ada juga yang tidak, namun mereka bergantian menjadi imam dan makmum. Begitu juga Abu Hanifah dan asy-Syafi’i serta pengikut-pengikutnya, mereka semua salat mengikuti imam-imam Madinah yang bermazhab Malik walaupun imam-imam itu tidak membaca basmalah, sama sekali, tidak dengan suara keras atau perlahan.

Seorang imam yang bijaksana akan meninggalkan mazhab yang dianutnya dan mengamalkan mazhab orang banyak yang mengikutinya demi persatuan dan kesatuan. Di sisi lain, makmum yang paham tidak akan mempersoalkan imam yang mengamalkan pendapat mazhab yang dianutnya walaupun mazhab imam itu menurut keyakinannya tidak sah untuk diamalkan.

Seseorang yang menganut mazhab yang menyatakan bersentuhan dengan lawan jenis atau muntah membatalkan wudhu, kemudian mengikuti imam yang tidak menganut paham itu, bahkan telah bersentuhan dan muntah —makmum yang mengikuti imam itu— tidak batal salatnya. Demikian pendapat para imam mazhab kendati dalam banyak perincian mereka berbeda pendapat. Demikian, wallahu a’lam.

(M Quraish Shihab, Dewan Pakar Pusat Studi Alquran)